Festival Destika 2014: Mewujudkan Kemungkinan dari Segala Ketidakmungkinan


yossy suparyo dalam destika 2014 majalengka

Dunia perdesaan menjadi kanal episentrum dari semua label negatif; terbelakang, bodoh, dan primitif. Tak heran bila banyak kalangan yang pesimis atas inisiatif percepatan pembangunan di wilayah perdesaan karena semua kendala akan segera menghadang. Namun, ada pepatah 1001 jalan ke Roma. Seberkas harapan dan optimisme lahir dari Festival Destika 2014 yang diselenggarakan di Desa Tanjungsari, Sukahaji, Majalengka. Lewat dukungan teknologi informasi dan komunikasi, desa mampu mengejar ketertinggalan sekaligus mempertahankan identitasnya: agraris.

Festival Desa Melek Informasi dan Komunikasi, selanjutnya disebut Destika, berlangsung pada 25-27 September 2014. Destika 2014 merupakan festival kali kedua, sebelumnya festival serupa dilaksanakan di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. Destika merupakan festival tahunan yang secara rutin diselenggarakan oleh Gerakan Desa Membangun (GDM) bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Festival Destika menjadi ajang bagi desa-desa untuk bersilaturahmi, berbagi, dan saling menguatkan diri.

Pada Festival Destika pertama, peserta festival adalah desa-desa melek IT (Demit) yang bergabung dalam Gerakan Desa Membangun. Selanjutnya, banyak pihak yang ikut terlibat dalam acara ini, seperti Relawan TIK, dunia pendidikan, SKPD, dan dunia wirausaha. Karena itu, para penggagas festival dipaksa makin jeli untuk menjahit beragam kepentingan dalam sebuah perhelatan akbar itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s