Perpustakaan Komunitas, Bikin Komunitas Makin Cerdas


Keberadaan perpustakaan komunitas tak bisa dilepaskan dari hakikat perpustakaan itu sendiri. Konsep perpustakaan muncul sebagai akibat dari aktivitas berpikir manusia. “Cogito ergo sum,” kata Descartes. Saya berpikir maka saya ada.

Aktivitas pemikiran manusia menghasilkan pengetahuan, baik ilmu pengetahuan maupun estetika. Bermodal pengetahuan, kelompok manusia terus mengembangkan peradaban dan masyarakatnya semakin maju dan modern.

Pengetahuan manusia bisa dibedakan dalam dua kelompok, pengetahuan yang masih berada dalam benak seseorang (tacit knowledge) dan pengetahuan yang sudah direkam (explicit knowledge), misalnya dalam bentuk buku, keping cakram (CD), peta, dan lainnya.

Perpustakaan muncul sebagai sebuah metode atau cara untuk mengorganisasi pengetahuan eksplisit manusia. Artefak-artefak disusun sedemikian rupa supaya bisa dicari dan disebarluaskan untuk membantu manusia menyelesaikan permasalahan mereka sehari-hari.

Kunci perpustakaan komunitas adalah komunitas itu sendiri. Komunitas di sini saya pahami adalah kumpulan manusia dan lingkungannya dalam suatu spasial tertentu. Luasan spasial bisa berupa grumbul, dusun, desa, ataupun kecamatan.

Perpustakaan komunitas didirikan oleh komunitas, dimanfaatkan oleh komunitas, dan koleksinya dikembangkan dari kreativitas atau pengelolaan pengetahuan komunitas. Perpustakaan komunitas adalah sebuah usaha komunitas untuk mengelola pengetahuan yang ada di komunitasnya, baik pengetahuan yang sudah terekplisitkan maupun pengetahuan yang masih berupa tacit.

Pengelolaan pengetahuan ekplisit komunitas di perpustakaan komunitas biasanya mengacu pada sistem yang sudah baku atau standar, misalnya Dewey Decimal Catalog (DDC). Koleksi dipilah berdasarkan kelas dan subkelas, supaya kegiatan temu kelmbali koleksi mudah dilakukan. Sementara itu, pengelolaan pengetahuan yang masih berupa tacit dilakukan dengan kegiatan Mengenal Desa Sendiri (MDS).

Inisiatif itu dilakukan oleh Perpustakaan Komunitas mBrosot, Kulonprogo, dengan mengajak anak-anak dan remaja bersepeda ria berkeliling kampung untuk membuat peta desa. Mereka menulis pelbagai hal yang menarik bagi mereka. Di Perpustakaan Komunitas Desa Serut, warga berdiskusi pelbagai masalah pertanian. Akhirnya, muncul inisiatif untuk mematenkan benih padi organik yang mereka hasilkan.

Kegiatan MDS menghasilkan banyak berkas, ada yang berupa cerita, gagasan, sejarah desa, peta, termasuk tatacara bertani. Berkas-berkas itu merupakan pengetahuan anggota komunitas yang sudah direkam atau tereksplisitkan. Jadi, ruh dari perpustakaan komunitas adalah aktivitas pengelolaan pengetahuan komunitas, bukan mendatangkan atau pengadaan koleksi buku sebanyak-banyaknya.

Konsep di perpustakaan di atas mengakibatkan jarak tindakan konsumsi dan produksi pengetahuan sangat tipis. Di perpustakaan komunitas, pengguna perpustakaan tidak sekadar mengkonsumsi bahan pustaka, tapi juga memproduksinya. Bila tindakan konsumsi dan produksi pengetahuan makin tipis, maka perpustakaan komunitas telah menjelma menjadi media komunitas untuk memperbaiki peradaban mereka.

4 thoughts on “Perpustakaan Komunitas, Bikin Komunitas Makin Cerdas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s