Politeknik dan Kebangkitan Industri Permesinan di Indonesia


Perkembangan dunia permesinan nasional terus merosot tajam. Pada 2013, nilai impor sektor industri permesinan dan alat mesin pertanian sudah mencapai USD 34,2 Milyar diperkirakan angka itu terus meroket pada tahun ini hingga USD 41,3 Milyar. Statistik itu menunjukkan tingkat ketergantungan Indonesia pada impor teknologi permesinan sangat tinggi.

Fakta di atas menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan dan praktisi di bidang permesinan. Dunia manufaktur atau industri permesinan dipatok mampu menyumbang 3,4 prosen Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan industri nasional tumbuh di atas 10 prosen. Sementara itu, dunia pendidikan di Indonesia memiliki jurusan teknik mesin mulai dari tingkat sekolah menengah kejuruan, politeknik, hingga universitas. Bahkan, sebaran lembaga pendidikan yang memiliki konsentrasi di bidang permesinan cukup merata.

Wakil Menteri Perindustrian, Alex SW Retraubun (2014) mengakui keterpurukan dunia industri permesinan. Menurutnya, 90 prosen barang modal sektor industri permesinan masih diimpor. Semakin tinggi pertumbuhan sektor industri akan diikuti tingginya impor. Dengan kata lain, sektor industri permesinan ibarat menara tinggi yang fondasinya sangat rapuh.

Untuk memperkuat sektor industri permesinan seharusnya pemerintah menerapkan kebijakan hilirisasi industri. Kita gagal meraih untung lebih besar akibat banyak produk unggulan masih dijual dalam bentuk barang mentah. Industri permesinan diharapkan mampu menjadi kekuatan baru dalam mengurangi ketergantungan impor permesinan.

Di dunia mineral mulai diterapkan larangan ekspor bahan mentah. Meski sempat memancing protes keras dari pelaku industri ekplorasi mineral dan tambang, kebijakan itu harus mendapat dukungan dari semua kalangan demi mendorong bangkitnya dunia industri di Indonesia.

Dunia pendidikan harus merespon positif kebijakan di atas. Mereka bisa fokus mendorong rekayasa di bidang permesinan yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti rekayasa permesinan untuk pertanian. Permintaan alat dan mesin pengolah hasil pertanian sangat tinggi, seperti motor diesel, traktor, pompa, dan alat semprot. Secara keilmuan maupun peralatan, rekayasa mesin pertanian mampu dilakukan oleh dunia pendidikan, baik secara mandiri maupun membangun kemitraan dengan praktisi di dunia industri.

Masa depan rekayasa industri pertanian cukup cerah. Pada 2013, nilai ekspor dari industri permesinan dan alat mesin pertanian mencapai USD 5,09 milyar dan tahun ini ditargetkan meningkat hingga USD 6,06 Milyar. Selain itu, sektor ini mampu menyerap 243.450 tenaga kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s