Website Desa dan Wajah Baru Dunia Perdesaan


Desa acapkali identik dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, minim infrastruktur, hingga pelayanan publik yang buruk. Tak heran apabila banyak warga desa yang memilih pindah ke kota. Pada 2012, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan (urbant) telah mencapai angka 54 prosen (129,6 juta) atau meningkat sebanyak 4,2 prosen bila dibandingkan degan jumlah penduduk pada 2010 yang hanya dari 49,8 prosen.

Banyak pemerintah kota yang tidak siap dengan laju urbanisasi yang berlangsung cepat. Pertumbuhan jumlah penduduk kota justru menjadi masalah baru, seperti kesulitan mengakses permukiman, air bersih, hingga lingkungan yang baik. Usaha untuk mengurangi laju urbanisasi terjebak politik jargon, karena tidak dibarengi dengan distribusi kue pembangunan ke desa. Di perkotaan, warga lebih memiliki peluang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang lebih baik dibanding yang tinggal di desa.

Untuk menyelesaikan masalah di atas strategi rekognisi atas desa mutlak diperlukan. Strategi rekognisi menempatkan desa sebagai subjek pembangunan sehingga mereka menjadi ujung tombak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di wilayahnya. Strategi rekognisi melahirkan konsep desa membangun, bukan membangun desa.

Sejatinya desa memiliki modal besar untuk mendorong upaya-upaya perubahan, yaitu tradisi tolong-menolong, persaudaraan, gotong-royong, dan adat-istiadat. Desa Melung dan Desa Dermaji di Banyumas dan Desa Mandalamekar di Tasikmalaya menunjukkan bahwa desa mampu melakukan perubahan sosial yang signifikan untuk mendorong perubahan yang lebih luas.

Pelayanan publik juga merupakan salah satu mandat yang diberikan pada pemerintah desa. Pelayanan publik di desa merupakan kegiatan unit administrasi terbawah dalam tata pemerintahan di Indonesia. Sebagian besar jenis pelayanan publik di desa merupakan rangkaian dari pelayanan publik oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Penyelenggaraan pelayanan publik mengacu Undang-Undang No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Selanjutnya, kebijakan itu dirincikan dalam Peraturan Pemerintah No 96 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 25 tahun 2009. Sebagian besar pelayanan publik di desa merupakan kelompok layanan yang bersifat administratif, seperti surat keterangan lahir dari kepala desa untuk syarat pengurusan akta kelahiran, pengesahan kepala desa dalam blangko formulir untuk pengurusan KTP, pernikahan, penerimaan wesel, dan pemberian surat keterangan untuk memperoleh Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Kepolisian.

Pemerintah desa harus mampu melayani kebutuhan masyarakat dengan cepat, akurat, dan murah. Sejumlah desa yang mempelopori Gerakan Desa Membangun (GDM) merancang sistem pendukung yang dirancang secara kolektif untuk menyelenggarakan tata layanan publik secara prima, termasuk mendorong ketersediaan dan kesahihan data desa. GDM menjalin kerjasama dengan para programmer terbaik bangsa untuk mewujudkan aplikasi Sistem Informasi Desa bernama Mitra Desa 1.0. Aplikasi itu didistribusikan secara gratis untuk desa-desa yang memiliki keinginan kuat untuk menyelenggarakan tata pemerintahan desa yang baik dan bersih.

Kemunculan website desa memberikan harapan baru bagi desa untuk menuliskan pengalaman, sumber daya, dan kekayaan pengetahuan secara mandiri. Terlebih Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) telah melayani domain DESA.ID sebagai identitas desa di dunia internet. Desa bisa memberitakan hal-hal yang selama ini tak muncul dalam media-media arus utama soal desa. Lebih dari itu, melalui pemanfaatan teknologi dan keterbukaan informasi, peluang bagi desa untuk promosi produk unggulan serta tata kelola sumber daya desa.

One thought on “Website Desa dan Wajah Baru Dunia Perdesaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s