Mudik Desa dan Pengarusutamaan Isu Perdesaan


Hari ini (8/8/2013), Jakarta seperti kota mati. Jalanan sepi dan tak ada kemacetan. Parade bunyi klakson bersahutan juga lenyap. Saat Hari Raya Idul Fitri, Jakarta nyaris tanpa penghuni, sebagian besar warganya mudik ke desa-desa untuk merayakan peristiwa penting umat Islam itu.

Hingar bingar Jakarta menghilang untuk sementara. Sebaliknya, di pelosok-pelosok desa warga bertambah hingga 40-65 prosen. Mereka adalah tenaga kerja usia produktif yang sehari-harinya bekerja di kota, terutama kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Merekalah yang menjadi penopang gerak dinamika kota.

Bagi warga pilihan kerja di kota sebenarnya bukan pilihan terbaik. Sebagian besar mereka menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, wiraniaga, maupun bekerja di sektor informal. Akibat kebijakan pembangunan yang sentralisme, pergerakan ekonomi lebih banyak terjadi di kota, tak pernah merembes ke desa, sehingga lowongan pekerjaan banyak tersedia.

Desa telah bangkrut, dia tak lagi sebagai habitat yang ngayemi apalagi ngayomi. Kerja keras pemerintah untuk berkampanye anti urbanisasi hanya pepesan kosong tanpa didukung kebijakan desentralisasi pembangunan. Ibarat pepatah, “ada gula, ada semut”, warga desa akan terus mengadu nasib ke kota bila kue pembangunan masih digenggam kota.

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s