Biblioterapi: Apa, Mengapa, dan Bagaimana


Makalah ini merupakan karya alihbahasa dari tulisan Joshua T. Jachna, seorang Profesor Bob Broad English, berjudul Bibliotherapy: What, Why and How yang diterbitkan pada 2005. Usaha alihahasa ini dilakukan untuk membantu para peneliti dan mahasiswa yang tengah mengkaji topik biblioterapi.

Dalam makalah penelitian ini, saya akan mengkaji apa itu biblioterapi, mengapa harus digunakannya, dan bagaimana cara kerjanya. Pengertian biblioterapi adalah suatu bentuk dukungan psikoterapi di mana bahan-bahan bacaan diseleksi secara cermat untuk digunakan untuk membantu subjek dalam mengatasi masalah pribadi atau untuk tujuan terapeutik lainnya (Dictionary.com). Pengertian ini jarang terdengar, namun itulah yang arti biblioterapi yang sebenarnya.

Di sisi lainnya, tujuan biblioterapi jauh lebih menarik, yaitu untuk membantu anak dalam mengatasi gejolak emosi yang terkait dengan permasalahan yang mereka hadapi pada kehidupan nyata melalui topik-topik bacaan yang sesuai (Ramsey). Dengan definisi dan tujuan itu, mari kita mengeksplorasi darimana seni biblioterapi berasal dan siapa yang bertanggung jawab untuk penciptaan terapi itu.

Ide penggunaan bahan bacaan atau sastra untuk membantu membentuk pandangan dan perilaku orang lain telah berlangsung selama ribuan tahun. Pemikir besar Plato adalah filsuf yang pertama untuk menulis tentang kemungkinan besar biblioterapi dan
anak. Plato pernah berkata:

“Akankan kita secara serampangan mengizinkan anak-anak untuk mendengar kisah picisan yang bisa dibuat oleh orang-orang biasa. Mereka tentu bisa menerima kisah-kisah itu secara mudah meskipun sebagian besar berlawanan dengan akal sehat karena mereka tengah dalam masa tumbuh. Kita tidak bisa… Apapun pemikiran yang kita diterima dalam abad ini cenderung menjadi tak terhapuskan dan diubah. Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah kisah yang diperdengarkan pada anak muda harus menjadi model pikiran bajik “(Denning).

Gagasan Plato untuk memberikan bacaan yang positif dan intelektual pada anak merangsang telah datang jauh dalam sebelum masehi. Lalu, baru-baru ini para sarjana menegaskan, “Sastra telah mampu menembus zaman, ia merupakan media tepat untuk transfer pemikiran. Sastra merupakan media tepat untuk menyimpan pemikiran brilian…yang di dalam kedalamannya tercermin sukacita, kesedihan, harapan, putus asa–setiap emosi dalam rekam kehidupan dapat dikenali (Crosse 925). Keyakinan bahwa buku memegang kebenaran dunia telah berlangsung lama, tetapi ide menggunakan bacaan dan sastra untuk membantu penyembuhan, atau setidaknya membantu orang menghadapi masalah mereka baru diketahui belakangan ini.

Kini, bentuk baru dari biblioterapi ala Plato telah diadopsi dalam berbagai dunia profesional di dunia. Biblioterapi dipergunakan secara luas oleh para psikolog dan dokter bersama dengan para guru untuk menangani masalah anak-anak dan orang dewasa. Psikolog yang terlihat menggunakan biblioterapi secara lebih luas pada 1960-an dengan ledakan buku pengembangan diri (self-help book). Sedangkan guru baru terlihat menggunakan teknik ini dalam dalam lima belas tahun terakhir. Pendekatan ini digunakan karena banyak anak yang mengalami masalah karena salah asuhan maupun kurangnya perhatian dari orang tua di rumah.

Berbekal pemaparan di atas, saya mengajak pembaca untuk menjawab pertanyaan berikutnya, yaitu mengapa biblioterapi harus digunakan. Saya akan lebih memfokuskan pada hubungan guru-murid dibanding hubungan psikolog-klien. Hal itu merupakan bagian dari cara pandang saya tentang guru dan pendidik masa depan.

Biblioterapi, sebagaimana dinyatakan di atas, ditujukan untuk membantu orang yang memiliki masalah melalui penggunaan bacaan atau sastra. Saat seorang anak tengah berjuang dengan masalah emosional, bacaan akan mempengaruhi hidupnya, baik di dalam maupun di luar rumahnya. Jika seorang anak berhadapan dengan kematian anggota keluarga atau menghadapi persoalan akibat orang tua mereka bercerai maka akan berpengaruh buruk pada perilaku mereka di sekolah. Oleh karena itu, mendorong anak untuk menemukan cara untuk mengatasi perasaan mereka maupun bagaimana cara mereka melanjutkan hidup sangatlah penting. Terlebih, peristiwa itu akan menorehkan bekas luka di masa kanak-kanak yang akan terus terbawa selama sisa kehidupan mereka.

Salah satu alasan mengapa guru lebih diprioritaskan untuk menerapkan biblioterapi di dalam kelas karena sekarang peran guru sebagai sosok orang tua semakin besar dalam pengaturan sekolah. Seringkali, orang tua di rumah hanya punya waktu untuk anak selama beberapa jam sehari. Sekarang ini sangat jarang melihat rumah tangga yang hanya mengandalkan satu penghasilan, artinya kedua orang tua sering pergi untuk sebagian besar hari untuk bekerja. Jika anak pulang sekolah pada tiga sore, lalu orang tua belum kembali ke rumah karena jam pulang kerja sekitar pukul lima atau enam. Lalu, berapa banyak waktu benar-benar mereka habiskan bersama anak-anak? Dengan makan malam, waktu pekerjaan rumah, dan kemudian tidur, rata-rata anak hanya bisa menghabiskan waktu bersama orang tuanya sekitar 2-3 jam perhari. Inilah peluang guru untuk memainkan peran lebih. Biasanya, siswa menghabiskan waktu sekitar 6 jam atau lebih di sekolah dengan para guru dan teman sekelas. Bahkan, sejumlah siswa menghabiskan sepanjang waktu dengan satu guru, sehingga tak berlebihan bila saya mengatakan guru akan bisa akurat dalam melihat dan mendiagnosa masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa.

Pentingnya kehidupan keluarga yang kuat terlihat dalam statistik dari anak-anak dengan orang tua tunggal di rumah. Dari anak-anak Amerika di bawah usia 18 tahun, 69% hidup dengan kedua orang tua. Sedangkan 28% atau 20 juta anak di bawah 18 hidup dengan satu orang tua (Divorce Magazine atau Majalah Perceraian). Grafik di bawah ini menunjukkan sejumlah statistik menakutkan dari apa keluarga berantakan yang berimbas pada pembentukan anak. Meskipun statistik tesis hanya menunjukkan prosentase untuk lingkungan panti asuhan, mereka dapat diperluas dan disesuaikan untuk menunjukkan efek pada anak-anak yang hanya memiliki orangtua tunggal untuk membantu cara asuh mereka.

Panti Asuhan Anak Yatim menjelaskan:

  • 63% dari pemuda bunuh diri
  • 90% dari anak-anak tunawisma/pelarian
  • 85% dari anak-anak dengan masalah perilaku
  • 71% dari putus sekolah tinggi
  • 85% dari pemuda masuk penjara
  • Lebih dari 50% dari ibu remaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s