Gunung Kelir: Titik Temu Rural-Digital


Kades 2.0 Desa Dermaji Banyumas dalam kunjungan kerja di kawasan Gunung Kelir
Kades 2.0 Desa Dermaji Banyumas dalam kunjungan kerja di kawasan Gunung Kelir

Minggu ini, Gunung Kelir terus jadi perbincangan di dunia internet. Bukan karena dia menjadi sarang latihan teroris, sebaliknya Gunung Kelir mampu mengangkat produk dan komoditi rural dalam dunia dijital. Acara #ngopikere pada 10-12 Mei 2013 membuktikan pesona Gunung Kelir begitu besar. Ratusan pegiat online dari pelbagai kota berkumpul di sana untuk membicarakan pengarusutamaan isu-isu perdesaan.

Pesona Gunung Kelir lekat dengan keberhasilan warganya dalam budidaya kambing etawa. Kambing etawa menjadi “primadona desa” mengutip syair lagu Rhoma Irama. Uniknya, popularitas kambing etawa di Gunung Kelir justru datang dari dunia 2.0 (internet), terutama lewat http://gunungkelir.com dan akun twitter @gunungkelir. Portal itu menarik para onliner untuk mempelajari dan meniru langkah warga Gunung Kelir untuk berternak kambing etawa.

Apa itu Gunung Kelir? Gunung Kelir merupakan gugusan gunung yang menyerupai kelir di kawasan perbukitan menoreh, tepatnya di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Budidaya kambing etawa di wilayah itu sudah berlangsung ratusan tahun, sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Awalnya, pemerintah kolonial Belanda mengimpor kambing jenis itu dari India.

Suasana #ngopikere di Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo
Suasana #ngopikere di Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo

Lalu, kambing etawa dikembangbiakan di daerah Kaligesing sebagai bagian dari penegasan struktur asimetris antara pemerintah kolonial, para priyayi komprador, dan rakyat jelata. Pada era kolonial, kambing etawa hanya boleh dimiliki oleh para priyayi dan bendoro seperti bupati, wedono, saudagar, maupun kepala desa. Akhirnya, kambing etawa menjadi simbol kelas ningrat daripada sekadar budidaya peternakanan yang berorientasi produksi.

Perubahan terjadi setelah era kemerdekaan. Kambing etawa boleh dikembangkan oleh siapa saja, termasuk warga biasa. Saat itulah tonggak sejarah budidaya kambing etawa sebagai komoditi produksi dimulai. Budidaya kambing etawa merambah sejumlah lini, seperti pembibitan, penggemukkan, hingga produksi susu. Namun, sisi simbolik masa lalu tak pernah hilang sehingga muncul lini kontes. Lini kontes ini yang membuat harga kambing tak masuk akal hingga ratusan juta rupiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s