@ksi Warga: Peta Aktivisme Sipil dalam Pemanfaatan Sosial Media


Internet berpotensi membawa dinamika sosial-politik lokal ke ranah global, sekaligus mendorong masalah global ke tingkat lokal. Namun, kelompok dan organisasi masyarakat sipil harus mendokumentasikan kerja dan keterlibatan mereka secara mandiri. Di Indonesia sudah banyak kelompok dan organisasi yang menunjukkan kemauan untuk melakukan itu, meskipun mereka masih memerlukan peningkatan kemampuan dan kapasitas.

Demikian ringkasan penelitian Yanuar Nugroho (YN) dkk berjudul Kolaborasi, Demokrasi Partisipatoris dan Kebebasan Informasi: Memetakan Aktivisme Sipil Kontemporer dan Penggunaan Media Sosial di Indonesia (2010). Penelitian ini merupakan kerjasama antara Manchester Institute of Innovation Research dan HIVOS Regional Office Southeast Asia. Penelitian tersebut bertujuan untuk menelaah secara empiris bagaimana organisasi dan kelompok masyarakat sipil di Indonesia terlibat dalam aktivisme sipil (civic activism) melalui penggunaan Internet dan media sosial; dan dampak keterlibatan mereka terhadap penguatan masyarakat sipil di Indonesia.

Dari analisis data penelitian, YK menyimpulkan masyarakat sipil di Indonesia adalah ranah yang sangat dinamis. Wilayah yang sangat hidup ini bukan hanya merupakan hasil dari persentuhan komunitas masyarakat sipil Indonesia dengan geliat masyarakat sipil global, tapi juga dibentuk oleh dinamika internal dari waktu ke waktu. Penggunaan Internet, dan belakangan media sosial, juga turut berperan besar dalam meluasnya ruang-ruang sipil. Lansekap media sosial di Indonesia sangat dinamis. Baik sebagai jagat online maupun sebagai pasar, lansekap ini sangat aktif dan terus berkembang. Media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi sangat populer karena: (i) harga ponsel yang semakin terjangkau, (ii) kuatnya kecenderungan berkomunitas dalam budaya Indonesia, dan (iii) kecenderungan penggunaannya yang menyebar dengan cepat. Berbagai karakteristik dari media sosial baru membuat masyarakat sipil semakin terbantu dalam mencapai tujuan. Akan tetapi, tidak semua kelompok dan organisasi masyarakat sipil mendapat manfaat strategis dari penggunaan media sosial. Hal itu menunjukkan bahwa manfaat strategis Internet tidak secara otomatis didapat dari penggunaan teknologi tersebut.

Bagi YN, penggunaan strategis dari Internet dan media sosial oleh masyarakat sipil harus melampaui dimensi teknologi, dan lebih kepada bagaimana kedua sarana tersebut digunakan untuk memperluas interaksi antara kelompok dan komunitas masyarakat sipil dengan pihak yang menjadi sasaran atau mitra kerja mereka. Hanya ketika masyarakat sipil dapat menjaga interaksi dinamis dengan publik melalui penggunaan media sosial baru popular yang strategis, dampak dari aktivisme sipil dapat diharapkan meningkat secara signifikan. Difusi Internet dan media sosial bukan, dan tidak akan pernah, merupakan proses black box. Proses penyelarasan sosio-teknikal mendasari penyebaran teknologi serta menempatkan pelaku, bukan teknologi, sebagai pusat perhatian.

Dua kecenderungan penting mengemuka di sini: tumbuhnya aktivisme masyarakat sipil, serta meningkatnya penggunaan Internet dan media sosial. Kesulitan muncul bukan pada bagaimana kita dapat memahami fenomena pertumbuhan kedua hal tersebut, melainkan bagaimana mengaitkan keduanya. Apa yang berusaha kami ungkap dan tampilkan lewat penelitian kami adalah dinamika masyarakat sipil di Indonesia dan bagaimana penggunaan Internet dan media sosial memberi dampak terhadap dinamika tersebut. Diskusi utama kami menunjukkan bahwa aktivisme sipil di Indonesia tidak hanya dibentuk oleh penggunaan teknologi (satu arah) tapi justu merupakan sebuah proses evolusi bertautan (co-evolution) antara penggunaan teknologi dan perkembangan aktivisme sipil itu sendiri. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara bagaimana aktivisme sipil dibentuk oleh penggunaan Internet dan media sosial, dan bagaimana Internet dan media sosial menjalankan peran sebagai platform aktivisme sipil.

Jaringan masyarakat sipil, dan juga wilayah sipil itu sendiri, merupakan konsekuensi dari keterlibatan sipil. Membangun jaringan harus menjadi bagian dari strategi, karena jaringan menyediakan berbagai cara dinamis dalam menghantarkan berbagai aktivisme sipil. Dampak dari tuntutan itu ada dua. Pertama, pada tingkat organisasi. Yang harus menjadi fokus perhatian adalah sejauh apa strategi penggunaan Internet dan media sosial tercakup dalam strategi organisasi. Kedua, pada tingkat gerakan yang melibatkan antar organisasi. Ada kebutuhan untuk memfasilitasi ruang di mana kelompok dan komunitas penggerak masyarakat sipil dapat bertemu, saling terlibat dan membangun jaringan bukan hanya dengan sesama tapi juga dengan masyarakat secara luas. Kerja lapangan kami menunjukkan bahwa beberapa kelompok sudah memulai inisiatif ini, tapi masih diperlukan banyak usaha untuk perbaikan.

Sehubungan dengan isu masa depan, penelitian ini menggunakan metode Foresight yang telah dimodifikasi, di mana peserta diminta untuk membayangkan skenario yang diharapkan. Hasilnya adalah suatu gambaran kemungkinan masa depan di mana masyarakat semakin kohesif, partisipatif dan terlibat dalam interaksi yang berdasar pengetahuan, dengan difasilitasi oleh teknologi yang aksesnya dapat dinikmati secara merata. Masa depan tersebut juga merupakan masa depan di mana ekonomi didorong oleh produksi, lingkungan hidup diperlakukan dengan kehati-hatian, dan masyarakat hidup secara demokratis. Untuk dapat mewujudkan skenario masa depan semacam itu, arah yang harus diambil adalah penggunaan Internet dan media sosial untuk memperkuat kepaduan sosial dan memperluas partisipasi dalam kehidupan sosial-politik, serta mendorong tumbuhkembangnya berbagai aktivitas ekonomi. Foresight yang telah dilakukan sebagai bagian dari penelitian ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, tapi suatu proses kegiatan menyeluruh sebaiknya tidak berhenti hanya pada tahap ini. Ada kebutuhan di masa depan untuk menindaklanjuti kegiatan ini, bukan untuk mengevaluasi sejauh mana masa depan terwujud sesuai skenario yang sudah dirumuskan, melainkan juga untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sipil dalam berpikir tentang masa depan.

Dalam memfasilitasi aktivisme sosial-politik, Internet dan media sosial tidak terpisahkan dari wilayah offline, namun justru berkaitan. Dalam wilayah masyarakat sipil, Internet mempengaruhi dinamika aktivisme sosial, ekonomi, dan politik. Internet memiliki potensi bukan hanya dalam membawa dinamika sosial-politik lokal ke ranah global, melainkan juga secara bersamaan mendorong masalah global ke tingkat lokal. Akan tetapi, untuk memastikan ini terjadi, kelompok dan organisasi masyarakat sipil harus mendokumentasikan kerja dan keterlibatan mereka secara mandiri. Penelitian kami menemukan bahwa sudah banyak kelompok dan organisasi yang menunjukkan kemauan untuk melakukan ini, tapi masih memerlukan peningkatan dalam hal kemampuan dan kapasitas.

Dengan teknologi dan pemanfaaatannya yang terus bergeser dan dibentuk, penyesuaian penggunaan Internet dan media sosial dalam masyarakat sipil Indonesia lebih menekankan pada proses ketimbang hasil. Teknologi yang terlibat secara terus-menerus dimodifikasi dan diadaptasi agar dapat selaras dengan kebiasaan organisasi. Oleh karena itu, “Citizens in action” tidak pernah memiliki format tertentu, melainkan senantiasa “terbentuk dan dibentuk ulang” melalui praktik keseharian kelompok masyarakat sipil dan komunitas yang melibatkan aktivis dan warga dalam aksi berkelanjutan – di mana teknologi menjadi sarana yang ramah untuk digunakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s