Isu-isu Kesetaraan Jender di Dunia Kerja


Perempuan secara konsisten berada pada posisi yang lebih dirugikan dalam pasar kerja daripada laki-laki. Untuk meningkatkan posisi perempuan dalam pasar kerja harus memperhitungkan cara-cara untuk memperbaiki kesetaraan akses yang dimiliki perempuan terhadap peluang-peluang kerja yang ada. Selain itu, perempuan perlu meningkatkan potensi sumber daya manusia yang mereka miliki.

Ada sejumlah kesenjangan gender yang masih perlu diatasi:

  1. Rendahnya tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan dan tingginya tingkat pengangguran tenaga kerja perempuan;
  2. Terbatasnya akses yang dimiliki perempuan untuk mendapatkan peluang-peluang pendidikan dan pelatihan secara luas;
  3. Tidak memadainya akses yang dimiliki perempuan untuk memperoleh sumber-sumber daya ekonomi seperti tanah dan kredit;
  4. Praktik-praktik penerimaan karyawan, pemilihan karyawan dan promosi karyawan di sektor formal yang bersifat diskriminatif atas dasar gender;
  5. Segementasi jenis kelamin angkatan kerja sehingga perempuan terkonsentrasi dalam sejumlah kecil sektor perekonomian, umumnya dalam pekerjaan-pekerjaan berstatus rendah dengan bayaran rendah, mobilitas ke atas dan tingkat keamanan yang rendah, atau di bidang-bidang yang belum diatur undang-undang seperti pekerjaan migran, pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan harus dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah;
  6. Rendahnya perlindungan hukum dan perlindungan sosial bagi pekerja perempuan, termasuk tidak adanya pengakuan dalam skema-skema asuransi sosial terhadap peran ganda yang dimiliki perempuan dan kebutuhan selanjutnya yang mereka miliki akan bentuk-bentuk asuransi yang fleksibel dan terindividualisasi;
  7. Semakin lebarnya kelompok usia perempuan dalam angkatan kerja dari usia dini hingga usia tua, dengan semakin tingginya proporsi anak-anak yang memasuki sektor informal, dan
  8. Terus berlanjutnya asumsi (sebagaimana tercermin dalam norma-norma hukum dan budaya) bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan hanya sekedar tambahan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan sekedar memberikan tambahan untuk penghasilan suami, yang digunakan untuk melegitimasi diskriminasi tempat kerja, dan
  9. Tidak adanya akses untuk menyuarakan dan mewakili kepentingan perempuan sebagaimana tercermin dari sangat kurangnya perwakilan perempuan dalam posisi-posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan dalam tubuh pemerintah, organisasi pengusaha dan serikat pekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s