Keluarga, Kesetaraan Jender Dimulai


“Katanya sudah persamaan jender, kok bangku di bus mesti didahulukan kepada perempuan? Bukankah kalian menuntut persamaan, jadi jangan meminta perbedaan, dong?”

Pernyataan di atas acapkali muncul dalam senda-gurau yang membahas persoalan jender. Hal itu menjadi ungkapan salah-kaprah yang mendera sejumlah kalangan saat mengartikan atau menangkap persoalan kesetaraan jender (gender equality). Kesetaraan jender disalahartikan dengan persamaan gender (equation gender). Padahal, equality tidak sama dengan equation. Kesetaraan gender bukan berarti persamaan gender atau laki-laki dan perempuan disamaratakan. Kesetaraan jender terkait dengan bagaimana mendorong persamaan akses, peluang partisipasi, kontrol, dan manfaat yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Erna Surjadi dalam bukunya Gender Skateboard (2011) mengibaratkan kesetaraan gender seperti tangan. Tangan kiri dan tangan kanan, keduanya sama dihargai, dicuci dengan sabun dan disayangi, walaupun lebih sering tangan kanan yang digunakan, bukan berarti tangan kiri dilatih atau diubah persis seperti tangan kanan. Dalam rumah-tangga, kesetaraan di sini berarti suami-istri memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan, perkembangan, keuangan, pekerjaan, makanan, rekreasi, waktu luang, dan lain sebagainya.

Bagi Erna, pemberian kesempatan kepada kaum perempuan tidak berarti dikompensasikan dengan “kekuasaan jender” karena demokrasi tidak dikenal dalam demokrasi yang adil. Penguasaan sumber daya kebanyakan dimiliki kaum laki-laki di ranah publik, tetapi bukan berarti berlanjut ke rumah tangga. Seyogianya penguasaan ranah domestik dan publik dapat diseimbangkan antara laki-laki dan perempuan sebagai mitra sejajar dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Pasangan yang membangun gender harmony artinya berupaya mengangkat rasa hormat atau penghargaan (respect) terhadap pasangannya untuk mencapai kerukunan (united) dalam pelbagai aspek kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Politik di sini dihubungkan dengan proses pengambilan keputusan yang tidak lagi didominasi suami (sesuai budaya patriarki), tetapi bersama-sama berdasarkan egalitarianisme etos bahwa suami-istri adalah mitra sejajar dalam kehidupan rumah tangga.

Buku The Family karya Virginia Satir coba merincikan bagaimana kesetaraan jender diterapkan dalam lingkungan keluarga, yaitu (1) Kebebasan untuk melihat dan mendengar (menyimpulkan) apa yang ada di sini dan saat ini, dan bukannya apa yang telah ada, akan ada, dan seharusnya ada; (2) Kebebasan untuk berpikir apa yang dipikirkan pasangannya, dan bukannya yang harus pasangannya pikirkan; (3) Kebebasan untuk merasakan apa yang pasangannya rasakan, bukan apa yang harus dirasakan pasangannya; (4) Kebebasan untuk bertanya apa yang pasangannya inginkan, bukan menunggu diberi izin; dan (5) Kebebasan untuk mengambil risiko atas diri sendiri, bukan memilih yang paling aman dan selalu bermain untuk keselamatan.

Setiap orang memiliki kebebasan. Maka dari itu, ketika seseorang memakainya, perlu dipikirkan bahwa orang lain pun memiliki kebebasan yang sama.

One thought on “Keluarga, Kesetaraan Jender Dimulai

  1. Tapi bukan berarti gender yg satu boleh seenaknya minta didahulukan, apalagi kalau dia masih muda dan sehat, lagipula kan ada budaya antri juga. Siapa datng duluan berhak duduk dong, kecuali memang orang sangat lemah seperti ibu hamil, bayi, balita dan lansia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s