Uni Yet, Pejuang dan Pewarta Bermodal Ketegaran Hati


Uni Yet saat berada di balik jeruji besi
Nurhayati Kahar atau biasa dipanggil Uni Yet akhirnya bisa mengirup udara bebas. Informasi ini saya dengar langsung setelah Uni Yet menelepon secara langsung. “Alhamdulillah uni, yakinlah Gusti Allah mboten sare,” ungkapku padanya. Kisah Uni Yet merupakan salah satu potret buram dunia penegakan hukum di Indonesia.

Apa yang membuat kasus Uni Yet menjadi istimewa? Uni Yet adalah seorang aktivis dan pewarta yang tegas, berani, dan produktif. Dia memimpin sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Limbubu di Padang Pariaman untuk memperjuangkan hak-hak anak, melindungi abak-anak dan perempuan korban kekerasan, serta mendorong transparansi dalam tata kelola pemerintahan.

Sebulan sebelum peristiwa itu, Uni Yet bercerita dirinya sedang mengadukan seorang anggota kepolisian yang memperkosa seorang gadis tuna rungu dan tuna wicara hingga korban hamil. Sayang, segala laporannya tidak segera ditindaklanjuti oleh kepolisian setempat hingga Uni Yet melaporkan peristiwa itu langsung ke Kapolri.

Berita buruk datang di pertengahan Mei 2011 (14/5/2011). Uni Yet ditangkap oleh polisi dengan tuduhan kepemilikan narkoba. Penangkapan Uni Yet terjadi saat dia dalam perjalanan dari Padang menuju Pariaman. Di Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mobil Avanza dengan nomor polisi BA 2258 yang ditumpangi Yet, dicegat polisi. Aparat mengaku mendapat laporan, mobil ditumpangi Yet membawa narkoba. Setelah digeledah, polisi menemukan narkoba di jaket Yet.

Hampir semua kawan-kawannya, termasuk aku, menilai penangkapan dirinya penuh jebakan dan rekayasa. Hubungan aku dan Uni Yet cukup dekat, terutama di jaringan Suara Komunitas. Uni Yet adalah redaktur wilayah untuk Sumatra Barat, sementara aku sendiri menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Saya sempat kontak dia sehari setelah penangkapan. Sejumlah pewarta warga di Sumatra Barat juga saya minta untuk mengecek informasi tersebut.

Yet menganggap peristiwa yang dialaminya sebagai sebuah jebakan busuk. Ia bukan pengguna narkoba, terlebih benda itu bukan barang yang bisa dia konsumsi secara gratis. “Masa aku kuat beli narkoba Yos, kau tahu seberapa besar dapur keuanganku, wakakaka,” jelasnya sembari tertawa lebar.

Uni Yet rajin menulis peristiwa-peristiwa yang terjadi di Sumatra Barat. Dia juga seorang pegiat radio komunitas yang pandai bersiaran, termasuk memancing gelak tawa para pendengarnya. Pada pertemuan Suara Komunitas di Cirebon, Maret 2011, dia mendapat amanat untuk menjadi Redaktur Wilayah Sumatra Barat. Selain persoalan hak anak dan kekerasan terhadap perempuan, Yet sering menyoroti praktik-praktik penyelewengan dana rekonstruksi korban gempa Sumatra Barat. Ia juga bersuara lantang terhadap kebijakan Pemkab Padang Pariaman yang dianggapnya tidak benar.

Uni Yet kini telah bebas dari jerat hukum setelah upaya bandingnya dikabulkan oleh Pengadilan Tinggi Sumatra Barat. Hakim memutusnya tidak terbukti dalam kepemilikan benda haram itu. Salut, Uni Yet mampu bertahan dari semua upaya kriminalisasi atas dirinya bermodal ketegaran hati.

  • Tak Berkategori

One thought on “Uni Yet, Pejuang dan Pewarta Bermodal Ketegaran Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s