Perpustakaan Dunia Islam Kurang Perhatian


Pengelolaan perpustakaan di lembaga-lembaga Islam belum mendapat perhatian yang serius. Perpustakaan dikelola secara sederhana tanpa dukungan pendanaan, pengelola profesional, pengadaan koleksi, pengembangan minat baca, bahkan tak sedikit yang menganggapnya sebagai pekerjaan sampingan. Kondisi ini membuat perkembangan pengetahuan di lembaga-lembaga Islam terus berkutat dalam keterbelakangan dan kebodohan.

Fakta menarik disajikan dalam laporan hasil survei perpustakaan-perpustakaan di lembaga Islam yang dilakukan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kegiatan survei tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan keilmuan untuk mata kuliah Sejarah Perpustakaan Islam yang dibimbing oleh Nurdin Laugu, MA di semester genap.

Menurut Nurdin, kegiatan survei dilakukan selama dua minggu. Mahasiswa dibagi dalam sejumlah kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang. Mereka melakukan pengamatan langsung ke pondok pesantren, organisasi keislaman, dan perguruan tinggi Islam. Temuan-temuan yang diperoleh dari kunjungan tersebut disusun dalam laporan yang selanjutnya disajikan di kelas perkuliahan.

“Di awal perkuliahan mahasiswa mempelajari teori, kegiatan survei penting dilakukan agar mahasiswa semakin paham perkembangan perpustakaan Islam, khususnya di Indonesia,” jelasnya.

Minimnya pendanaan merupakan kendala utama pengelolaan perpustakaan Islam. Dana yang dikelola perpustakaan hanya cukup untuk menggaji staf biasa, sementara untuk pengadaan koleksi pustaka mereka mengandalkan hibah dari alumnus dan lembaga-lembaga donor. Akibatnya, mutu layanan yang diberikan perpustakaan jauh dari harapan pengunjung.

Sejarah Perpustakaan Islam

Kunci kejayaan umat Islam ada di tangan pustakawan. Pada zaman keemasan Islam buku dianggap lambang kemajuan, ibu peradaban dan kebudayaan. Perpustakaan dapat dijumpai di mana-mana dengan koleksi buku yang melimpah. Begitu pula dengan pengunjung tetap perpustakaan dan pencinta buku.

Situasi itu terjadi pada zaman dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar–Rasyid (786–809M) dan putranya khalifah Al–Ma’mun (813–833 M). Kota Baghdad bukan saja terkenal sebagai pusat penerbitan buku tetapi juga pusat penulisan risalah ilmiah, sastra dan filsafat, sehingga tak heran Baghdad menjadi pusat peradaban dunia. Kondisi berbeda dialami warga di daerah Eropa. Saat itu hampir seluruh daratan Eropa sedang mengalami masa kegelapan.

Pada masa pemerintahan kedua khalifah tersebut terjadi perubahan paradigma dari para khalifah sebelumnya. Para khalifah sebelum mereka selalu menekankan perluasan kekuasaan, sedangkan kedua khalifah tersebut menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan yang ditempuh melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka sadar atas pentingnya ilmu pengetahuan sebagaimana yang diperintahkan dalam Alqur’an, diantaranya surat dan ayat pertama yang berbunyi “Iqra“ (bacalah) dan hadits nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Uda, berbunyi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun.“

Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu dipercepat dengan didirikannya perpustakaan. Perpustakaan menyimpan ilmu pengetahuan dan informasi yang dikumpulkan berdasarkan maksud tertentu dan dengan tujuan yang diarahkan kepada penggunaannya. Perpustakaan menghimpun ilmu dan informasi yang diperoleh dan dilahirkan umat manusia dari masa ke masa. Ilmu dan informasi itu disampaikan kepada orang lain melalui media rekaman, salah satu media rekaman tersebut ialah buku. Jadi, perpustakaan berfungsi sebagai pengantar ilmu dan informasi kepada masyarakat yang memerlukannya.

Peran Ulama di Perpustakaan

Meskipun sebagian besar perpustakaan di lembaga Islam belum terurus, peran pemuka agama atau ustad sangat penting. Sebagian besar koleksi, seperti kitab-kitab berbahasa Arab terbitan luar negeri merupakan sumbangan mereka saat menempuh pendidikan di pondok pesantren atau studi di Timur Tengah. Biasanya, koleksi-koleksi itu menjadi rujukan utama proses pembelajaran.

Nurdin mengaku miris setelah mendapat laporan kondisi perpustakaan di lembaga Islam. Kondisi ini sangat kontras dengan perpustakaan islam di zaman kejayaan Islam. Di era Khalifah Al-Makmun, perpustakaan Bait Al-Hikmah menjadi pusat kegiatan intelektual, rekayasa, pengetahuan, dan sastra.

“Di dunia Islam penghargaan terhadap kitab, khususnya kitab yang berhubungan dengan perilaku peribadatan, relatif masih tinggi. Sayang, sebagian besar lembaga Islam memiliki masalah dengan pendanaan. Akhirnya, perhatian terhadap perkembangan perpustakaan dinomorduakan,” lanjut Nurdin.

Metode perkuliahan seperti ini memungkinkan mahasiswa memperkaya wacana dengan fakta-fakta primer di lapangan. Pengalaman ini membantu mahasiswa untuk menemukan titik temu disiplin ilmu dengan kenyataan di lapangan.

2 thoughts on “Perpustakaan Dunia Islam Kurang Perhatian

  1. saya sngat setuju bila perpustakaaan islam mulai digalakkan sampai di desa sebab banyak para generasi muda ynag hura-hura .Daripada hura-hura daiarahkan tuk baca-baca

  2. Alhamdulillah saya juga telah merintis perpustakan islam di rumah .koleksibukunya 80% islam minat baca cukup.jika saudaraku ingin membantu buku islam saya siap mengelolanya.
    alamt:RT:06 Rw:4 Desa Kirig Kec.Mejobo Kab Kudus 59381 an Pustaka Islam SOMMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s