Tayangan Baik Belum Tentu Ditonton


Apakah tayangan yang baik pasti mendapat tempat di hati penonton? Belum tentu, temuan menarik didapat oleh Tim Literasi Televisi Masyarakat Peduli Media (MPM) di Dusun II Gatak, Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Saat itu, tim tengah memfasilitasi sesi penilaian tayangan televisi. Fasilitator menetapkan tiga kriteria tayangan televisi, yaitu (1) tayangan yang baik, (2) tayangan yang buruk, dan (3) tayangan yang sering ditonton. Fasilitator mengajak peserta untuk mendaftar tayangan yang pernah ditonton di pelbagai stasiun televisi tak berbayar. Setiap peserta menuliskan nama acara dalam kartu meta.

Kartu meta yang dipersiapkan ada tiga jenis, kartu warna merah untuk tayangan yang buruk, kartu warna hijau untuk tayangan yang baik, dan kartu meta warna orange untuk tayangan yang paling sering ditonton. Sebelumnya, fasilitator telah menjelaskan cara menulis di kartu­kartu tersebut. Lalu, seluruh kartu ditempel di dinding berdasarkan warnanya untuk memudahkan analisis.

Pada sesi ini, banyak peserta sulit membedakan antara nama tokoh dengan nama program. Misalnya, peserta menulis nama Tukul dibanding nama programnya, Bukan Empat Mata. Ada juga yang menyebut nama acara dengan nama pembawa acara, seperti Kick Andy dikira nama dari Andy F Noya. Meskipun ada salah ucap nama program dan aktor, sebagian besar peserta mampu menjelaskan apa isi tayangan yang ia sebutkan saat diperiksa ulang oleh fasilitator.

Acara televisi yang termasuk dalam tayangan baik, antara lain acara Serial Si Bolang, Jalan Sesama, Pangkur Jenggleng, Berita, Jejak Petualang. Sebagian besar tayangan hiburan,   masuk dalam kelompok tayangan buruk, seperti gosib, berita kriminal, Issabela, The Master, film luar negeri, dan sinema eletronik (sinetron).

Anehnya, pada kartu orange atau tayangan yang sering ditonton justru didominasi oleh tayangan yang ada di kartu merah atau tayangan buruk, misalnya Suami­Suami Takut Istri, Melati untuk Marvel, Opera van Java, Termehek­mehek, Gong Show, dan lain-­lain.

Kesimpulannya, tayangan yang baik belum tentu mendapatkan tempat di hati pemirsanya. Oleh karena itu, tayangan yang baik harus dikemas menjadi tontonan yang menarik dan tidak membosankan. Serial Si Bolang menjadi  contoh yang tepat untuk tayangan yang mendidik dan menarik.

Yossy Suparyo, Fasilitator Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s