Asik Bersepeda di Kota Mataram Kuno


Angin pagi berhembus pelan. Matahari merangkak enggan di sisi timur. Roda berputar pelan mengikuti ayunan pedal menuju kota Mataram Kuno, Giriloyo.

Pagi ini (21/6/2009) aku bangun bagi. Meskipun hari libur kerja, aku telah siapkan sepeda. Aku periksa ban, rem dan lumurkan oli pada rantai dan as-as. Kaos tangan sudah kubeli semalam dan tak lupa mengelap sepeda hingga kinclong. Komputer jinjing dan kamera tangan telah siap.

Giriloyo merupakan salah satu kota penting di era mataram kuno. Hingga kini giriloyo menjadi lokasi pemakaman raja-raja Mataram. Makam Giriloyo dibangun pada tanggal 1 Februari 1788 M. Pasareyan Giriloyo terletak di arah selatan Keraton Yogyakarta (+ 17 km), tepatnya di wilayah Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Untuk mengeliling makam, aku ditemani dua bocah kecil Zaki (9) dan Syarif (7). Dengan lincah dia bercerita tentang makam. Mereka menunjukkan makam nenek moyangnya serta saudara mereka. Selain itu, kedua bocah ini menceritakan makam lainnya.

Di dalam Situs Makam Giriloyo terdapat beberapa bangunan. Untuk menuju pemakaman sayap barat aku harus menaiki kurang lebih 25 anak tangga. Area makam ini terbagi menjadi tiga di mana masing-masing makam dikelilingi oleh pagar tembok bata. Halaman I terdapat 33 makam, 22 makam tidak diketahui identitasnya sedang lainnya adalah makam Sekaran Tiban (makam Sultan Agung dalam bentuk rohani), Kyai Guru Desti, Ngabehi Lor, Pangeran Haryobroto, Raden Tumenggung Haryobroto, Raden Adipati Banyuwangi.

Halaman II yang terdapat 6 makam, yaitu makam Panembahan Juminah, Kanjeng Haryo Mangkubumi Putro dalem ingkang Sinuwun Sedo Krapyak, Kanjeng Pangeran Haryo Sokowati putro dalem kasultanan Agungan, Kanjeng ratu Mas hadi/Ibu Sultan Agung, Raden Tumenggung Haryo Wongso dan kanjeng Pangeran Martosoko. Halaman III (halaman yang paling tinggi) terdapat makam Kanjeng Ratu Pembayun, istri Amangkurat.

Di sayap timur terdapat makam Kyai Ageng Sentong dan Kyai Ageng Giring berada dalam ruang tersendiri, sedang makam Panembahan Giriloyo/Kanjeng Sultan Cirebon V ini diberi pagar keliling. Makam di luar pagar keliling ada makam Wiroguno, makam Raden Ayu Nerang Kusumo, makam Kyai Juru Wiro Probho, makam Tumenggung Hanggobahu, dan makam prajurit.

Tentu semua kelengkapan data ini tidak dituturkan secara lengkap oleh kedua bocah itu. Sebelumnya aku telah membaca keberadaan makam ini dengan berselancar di internet. Lelah berkeliling makam, Zaki dan Syarif mengajaku ke sungai. Meski badan terasa lelah, berendam di sungai sungguh nikmat. Eh, hampir lupa, kedua teman kecilku juga seorang pengayuh sepeda yang hebat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s