Contreng atau Centang


April tahun ini, saya sering berurusan dengan kata contreng. Maklum sebagian besar berita yang masuk ke meja redaksi sering kali terkait dengan persoalan Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu kali ini juga menerapkan sistem baru di mana pemilih tidak lagi mencoblos tanda gambar tapi dengan mencoretkan tanda seperti v atau cawang pada pilihannya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut cara ini sebagai mencontreng. Semua media massa juga memberitakan cara ini sebagai pen-contreng-an. Awalnya tidak ada yang aneh dengan kata ini. Suatu kali saya iseng menyelidiki apakah kata contreng merupakan kata baku atau bukan kata baku. Hasilnya, sungguh menyedihkan. Kata contreng tidak saya temukan di KBBI Daring Online. Saya justru menemukan kata “centang”. Seharusnya, kelembagaan negara menggunakan bahasa baku sesuai dengan petunjuk penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi, istilah menandai pilihan adalah pen-centang-an, bukan pen-contreng-an.

Memang, Bahasa Indonesia berakar dari lingua franca atau bahasa pergaulan. Namun, tetap saja ada pedoman Bahasa Indonesia yang baku. Ironisnya, hal ini tidak terjadi, justru di pergelaran yang paling populer bagi bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s