Tour de Tjilatjap: Menelikung di Jalanan Kubangkangkung


Belum lama ini (21-24/2/2008) aku pulang kampung di Rawaapu, Patimuan, Cilacap. Saat pagi masih buta, pukul 04.30, kupacu kuda besi tinggalkan Kota Jogjakarta. Seger rasanya bisa menikmati suasana pagi. Jalanan sepi dan debu-debu belum berterbangan jalanan kota.

Tiga kawan satu kontrakan yang ikut serta. Selain ingin jalan-jalan dan plesiran, mereka akan membantuku memfasilitasi sebuah pelatihan radio dan internet di kampung. Sepeda motor menembus kabut pagi dengan lambat, kira-kira kecepatan 60-70 Km/jam.

Di tengah perjalanan, kita sempat mampir di RM Lestari, Karanganyar, Kebumen, sebuah rumah makan langganan para pegiat agen perjalanan atau mereka yang rindu mencecap aroma masakan Banyumas. Aku sendiri termasuk kategori terakhir, rasanya lidah ini rindu dengan rasa Banyumas; pedas, asin, berminyak, dan tentu mendoannya bung!

Di Kebumen jalanan kota ramai dengan ribuan sepeda onthel yang dipakai anak-anak sekolah. Mereka tampak riang mengayuh sepeda, terkadang diselingi dengan canda-gurau. Jogjakarta di era 1980-an mungkin seperti ini, udara masih bersih dari polusi. Setelah satu jam sarapan pagi, kami memacu kembali kuda besi buatan negeri Sakura, Japan.

Sekitar pukul 10.00, kita memasuki pintu selamat datang Cilacap. Aduh, teman-temanku kegirangan, padahal jarak Cilacap ke Rawaapu masih sekitar 2,5 jam lagi. Rasain lo… Memasuki jalanan Cilacap-Rawaapu, kami harus lebih waspada. Kita seperti melihat pertunjukan sulap, baru enak-enak lari di jalan mulus, satu atau dua kilometer selanjutnya, terjun ke jalan bergelombang dan berlubang.

Aku kadang heran juga, kenapa jalanan kok belang-blentheng begini yah… Jangan-jangan pembangunan jalan tergantung lokasinya dulu nyoblos apa waktu Pemilu (he3x…). Jadi, Bupatinya enak aja membuat rencana, kilometer ini dibangun, kilometer itu dilewati..(Tapi ini dugaan lo, pura-puranya sedikit ‘fitnah’ dan ‘intrik’ juga sih, biar kayak politisi).

Setelah melewati Jeruklegi, kita memasuki hutan lindung yang ditanami pohon Jati, Pinus, dan Karet. Kubangkangkung namanya. Sayang, sebagian besar pohon masih kecil-kecil karena belum lama ditanam. Konon, pada tahun 1998, sekelompok pencuri membabat habis hutan lindung yang berisi pohon jati besar-besar. Ratusan hektar hutan habis dalam semalam. Konon, menurut info dari teman, lebih dari 10.000 ribu pohon tumbang. Bila satu pohon jati bisa dihargai Rp 2.000.000,- maka ada negara dirugikan sebesar 10 Milyar rupiah dalam satu malam.

Sayang tindak kejahatan ini tidak bisa dilacak pelakunya oleh polisi. Suatu jawaban yang tidak masuk akal. Bayangkan ratusan truk membawa muatan yang sama, tidak bisa dilacak satupun? Mustahilkan, lagi pula Kubangkangkung bukanlah hutan Kalimantan yang masih perawan. Jadi, wajar bila para warga menuduh pencurian ini dilakukan oleh pencuri terorganisir, yang tentunya melibatkan aparat negara.

Jalan di Kubangkangkung terasa nyaman, angin sepoi-sepoi, aspal mulus, dan sinar matahari belumlah terik. Namun, setengah perjalanan, kita harus berjibaku dengan jalanan berlubang. Seorang teman sontak menggerutu, maklum beberapa kali merasa terbang saat melewati jalan bergelombang. Melihat jalanan seperti ini, tak heran bila banyak kecelakaan lalu-lintas di areal ini. Aku masih ingat serombongan warga yang ingin melihat ritual adat sedekah laut harus meregang nyawa di daerah ini saat truk yang mereka tumpangi terguling.

Kami sempat coba berpacu di tikungan meski berbahaya. Badan seperti dihempas-hempaskan meskipun tak sempat terpental dari kendaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s