Televisi Komunitas dan Keberaksaraan Media


“Televisi bagai anak pertama dalam keluarga,
semuanya serba menjadi pusat perhatian.”
Garin Nugroho

“Menerima penghargaan dari televisi, sama saja dengan menerima
ciuman dari seseorang yang aroma nafasnya tak sedap.”
Mason William

Para deklarator Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia

PERBINCANGAN PERAN TELEVISI DI INDONESIA kembali menghangat setelah Komisi Penyiaran Indo nesia (KPI) mengumumkan sepuluh siaran TV yang patut diwaspadai sebagai hasil analisis lembaga ini atas isi dan materi tayangan televisi (Jumat, 9/5/2008). Tayangan-tayangan tersebut dinilai bermasalah sebab mengandung (1) unsur kekerasan (fisik, sosial, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal; (2) pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual; dan (3) penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

Dalam siaran persnya, KPI menyebut Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Extravaganza (Trans TV), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (ANTV), Mister Bego (ANTV), Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Si Entong (TPI), dan Super Seleb Show (Indosiar) masuk sebagai tayangan yang patut diwaspadai. Sayang, sebagian pihak masih mensinyalir keputusan KPI tersebut, ditumpangi kepentingan-kepentingan pihak tertentu, terutama kepentingan pertarungan bisnis dan ekonomi. Secara pribadi, penulis tidak memiliki kecurigaan ini. Penulis yakin, sosok Prof. Dr. Arief Rahman, wakil ketua Dedy Nur Hidayat Ph.D, dan anggota Dr. Seto Mulyadi, Dra. Nina Armando MSi, Bobby Guntarto, MA, dan Ir. Razaini Taher dengan bantuan 11 orang analis lainnya memiliki objektivitas tinggi. Namun demikian, analisis dan evaluasi yang dikeluarkan oleh KPI masih meninggalkan kesan parsial, sebab tayangan televisi yang bias kekerasan, pelecehan, dan menodaan harkat kemanusiaan tidak hanya di sinetron dan tayangan hiburan lainnya. Ada tayangan yang mengklaim sebagai hasil-hasil kerja jurnalistik—yang tentunya semestinya memperhatikan prinsip-prinsip jurnalistik—namun namun memperontonkan tindakan nirjurnalistik seperti Buser, Halo Polisi, Patroli, TKP, dan tayangan-tayangan sejenis lainnya tidak mendapatkan bahasan yang proposional.

Acara berita-berita kriminal di atas jelas-jelas menampilkan aksi kekerasan secara langsung dan nyata. Menurut penulis, berita-berita kriminal ini lebih berpotensi membahayakan dibandingkan dengan sinetron, yang kita semua tahu hanyalah hasil rekaan belaka. Pada kenyataannya KPI tidak memasukkan tayangan berita kriminal sebagai tayangan yang patut diwaspadai. Maka tidak berlebihan, bila ada kalangan yang “menuduh” ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan KPI untuk kepentingan pribadi mereka. Terlepas dari pro dan kontra atas hasil analisis KPI di atas, kegelisahan masyarakat atas materi tayangan televisi, khususnya televisi komersil sudah ada. Sikap KPI semoga membawa angin segar bagi perbaikan kualitas isi tayangan televisi dan masukan yang konstruktif bagi insan pertelevisian. Terlebih dalam kurun tiga tahun terakhir ini, dunia pertelevisian di Indonesia berkembang sangat pesat. Bertambahnya jumlah stasiun televisi dari 5 menjadi 11 dalam waktu yang singkat menunjukkan keberadaan televisi sebagai salah satu industri media massa “favorit”.

Rendahnya kualitas isi tayangan sebenarnya menjadi keluhan hampir seluruh negara. Di negara-negara Barat yang menerapkan gaya hidup liberal sekalipun masih ada kritikan yang dilayangkan oleh masyarakat terkait dengan ‘kepantasan’ isi tayangan. Bahkan, di beberapa negara inisiasi keberaksaranan media (literacy media) telah menjadi kajian khusus yang diakomodasi dalam kurikulum pendidikan resmi. Keberaksaraan media mirip dengan keberaksaraan informasi (information literacy), yaitu seperangkat ketrampilan yang diperlukan untuk mencari, menelusur, menganalisis dan memanfaatkan informasi yang ada dalam media massa untuk kepentingan kemaslahatan publik.

Tulisan ini berusaha mengupas wacana keberaksaraan media atau melek media sebagai langkah strategis analisis hubungan antara masyarakat dan media massa—terutama televisi—untuk menegaskan pembelajaran, pemberdayaan, dan peningkatan kecerdasan masyarakat melalui pengelolaan dan pemanfaatan informasi. Gagasan ini sangat tepat dikembangkan oleh para pegiat media komunitas, agar tidak terjebak dalam cara pandang (paradigm) yang salah dalam menerapkan beragam inisiasi di masyarakat. Dus, usaha pengembangan televisi komunitas sendiri sebenarnya adalah keberaksaraan media—di mana media memiliki keterkaitan yang erat dengan komunitasnya—yang tercermin dalam semboyannya, dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas.

Menonton Televisi Sebagai Praktek Konsumsi

Pasca reformasi 1998, iklim kebebasan media menemui puncaknya. Sebelumnya pemerintah memang memberikan izin siar (1990-an) untuk stasiun televisi swasta yakni TPI, RCTI, dan SCTV melakukan siaran, namun ketiganya masih di bawah kendali kekuasaan rezim. Hermanto (2007:244) menulis media direduksi menjadi instrumen politik sehingga fungsi media sebagai alat kontrol sosial tidak bisa berjalan. Bahkan, televisi swasta berfungsi tetap sebagai corong pemerintah. Situasi berbeda muncul setelah diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 286/SK/Menpen/1999 yang memberikan izin bagi lima stasiun TV baru, kemungkinan adanya layanan TV berbayar (kabel), dan muncul inisiasi TV lokal sebagai usaha mengakomodasi kepentingan daerah di era otonomi daerah.

Namun terbukanya kran kebebasan di atas tidak segera menjamin kebebasan masyarakat mendapatkan informasi yang mencerdaskan. Insan pertelevisian, terutama swasta, justru terjebak untuk memproduksi program-program yang hanya memenuhi selera pasar. Meski pendapat ini jelas berlebihan karena masih ada tayangan-tayangan yang baik, tetapi acara hiburan dan infotainmen membanjiri susunan acara TV. Hal ini disebabkan pendirian televisi swasta lebih didasari oleh semangat berbisnis sehingga tujuan utama mereka adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, masyarakat pemirsa TV belum terbentuk sehingga mereka tidak berdaya dan menerima apa saja yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun TV.

Jumlah jam siaran masing-masing stasiun televisi mencapai lebih dari 20 jam sehari. Apabila sebelas stasiun televisi dapat diakses semua maka ada sekitar 220 jam tayang program per sehari. Padatnya jam tayang menyebabkan aktivitas menonton televisi dapat dikatakan sebagai sebuah tindakan konsumsi. Menurut Lull (1998:5-6) keberhasilan televisi menyebarkan budaya konsumerisme karena ia mampu memerankan dua fungsi sekaligus, yaitu pencitraan (imagology) dan ideasi. Pencitraan mensosialisasikan gaya hidup melalui iklan, sinetron, kehidupan selebriti, dan program acara lainnya yang glamor. Ideasi berhasil membius pemirsa pada mimpi-mimpi yang tidak realistis sehingga batas antara fakta dan citra sangat kabur. Situasi ini menghasilkan budaya instan. Bahkan televisi menjadi panutan baru bagi masyarakat layaknya agama. Televisi mengajarkan norma, adat, tradisi dan keyakinan yang mudah diamini oleh publik.

Asumsi ini dikuatkan oleh penelitian Budiman (2002) yang membahas apa yang dilakukan oleh pemirsa (audiens) terhadap televisi dan bagaimana mereka memperlakukan televisi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya, ada empat hubungan yang terjadi antara pemirsa dan televisi. Pertama, menonton televisi adalah tindakan menjalin dan/atau memutuskan ikatan interpersonal. Dengan menonton televisi orang sekaligus dapat mempererat atau sebaliknya merenggangkan jalinan komunikasi antar-pribadi satu dengan yang lain. Kedua, menonton televisi adalah mendapatkan beraneka pengalaman: bersantai, belajar, bermain, mengasuh, dan lain-lain. Ketiga, dengan kehadiran suaranya sebagai suara latar (background noise), tindakan menonton televisi adalah sekaligus menjadikannya sebagai teman yang setia yang bahkan bisa dijadikan sebagai interlokutor, seperti halnya manusia. Dan keempat yang tidak kalah penting, menonton televisi adalah sekaligus tindakan mengelola kekuasaan. Hal ini terlihat bukan saja dari tindakan monopoli perangkat remote control, melainkan juga dari penggunaan televisi untuk mengawasi dan mendisiplinkan orang lain, sampai dengan perkara yang menyangkut perbedaan selera.

Lebih lanjut aktivitas menonton televisi dikemas dalam konteks spasio-temporal yang jalin-menjalin dengan alur rutinitas sehari-hari. Dengan kata lain menonton televisi dianggap sebagai bagin yang koheren dari jadwal aktivitas sehari-hari yang membuat orang merasa betah berlama-lama menonton televisi. Bungin (2001:216-217) mengatakan aktivitas yang ada di televisi berhungan erat dengan realitas sosial masyarakat pemirsanya. Hal ini terjadi karena televisi menjadi model simulasi yaitu penciptaan model-model kehidupan yang nyata meski tanpa asal-usul yang realistis. Melalui model simulasi ini individu terjebak dalam satu ruang yang disadarinya sebagai nyata, walaupun sesungguhnya semu atau maya.

Relasi Kuasa Televisi dan Pemirsa

Model komunikasi antara televisi dan pemirsanya sangat beragam sebab setiap individu memiliki perbedaan, terutama aspek selera (taste). Pemirsa televisi bisa memutuskan satu atau dua program favoritnya secara acak atau sebaliknya sangat sentimentil. Selera juga dipengaruhi oleh berbagai aspek misalnya umur, jenis kelamin, profesi, dan pendidikan. Contohnya, film cerita drama percintaan, baik yang dikemas dalam sinetron maupun telenovela cenderung digemari oleh kaum perempuan; sementara film-film laga atau silat digemari kaum laki-laki. Program olahraga dan informasi sosial politik lebih banyak disukai oleh laki-laki; sementara para perempuan lebih memilih program infotainmen di seputar dunia selebriti dan persoalan kerumahtanggaan (Budiman, 2002:109).

Selain perbedaan selera, kuasa atas makna merupakan poin yang disoroti oleh Chomski (2005:6). Menurutnya televisi mampu merekonstruksi makna dengan halus sehingga masyarakat pemirsa tidak menyadari jika dirinya tengah diarahkan. Fakta di televisi semestinya dipahami sebagai hasil dari olahan para awak televisi. Meskipun para insan pertelevisian telah menerapkan teknik-teknik jurnalistik yang presisi, kita tidak dapat mengatakan bahwa fakta tersebut adalah fakta yang sebenarnya. Kepentingan di balik media sangat berpengaruh pada hasil informasi yang disajikan. Sebagai contoh, tahun 1998, sosok Soeharto dilukiskan sebagai seorang musuh bangsa karena dituduh melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebaliknya pada tahun 2008 saat Soeharto jatuh sakit hingga meninggalnya, materi pemberitaan televisi melukiskan sebagai pahlawan bangsa dan bapak pembangunan. Di sinilah kepentingan atau relasi kuasa di balik media sangat mempengaruhi fakta yang muncul di televisi. Myrdal (1988:12-13) mengatakan se-objektif apapun fakta di media tetaplah faktor penilaian, emosi, dan cara pandang seseorang mampu mencampuri realitas yang tercipta.

Pendapat serupa disampaikan oleh Chomsky lewat kisah Bajak Laut dan Armada Pasukan Angkatan Laut. Alkisah suatu saat bajak laut dapat ditangkap oleh armada pasukan angkatan laut. Lalu bajak laut berkata: “Mengapa saya yang kecil disebut sebagai perampok, sementara Anda yang mengambil upeti dalam jumlah besar disebut sebagai pahlawan.” Kisah ini menunjukkan bagaimana peristiwa yang sama dapat dimaknai berbeda.

Keberaksaraan Media (KM) sebagai Upaya Kritisme Isi Media

Keberaksaraan media (literacy media) muncul untuk menjawab dampak dari buruknya kondisi pertelevisian di Indonesia khususnya televisi komersil. Bukan rahasia lagi banyak masyarakat yang mengeluhkan dampak negatif dari tayangan televisi seperti mempertontonkan tindakan kekerasan, pelecehan seksual, pornografi, konsumerisme, dan budaya instan terutama bagi anak-anak dan remaja. Selain itu, KM juga membongkar memunculkan budaya baru pada masyarakat melalui televisi. Misalnya, televisi ritualism. Seperti penjelasan Lull di atas, budaya ini telah mengubah kebiasaan masyarakat. Televisi dianggap telah menjadi media yang memberikan kontribusi terbesar dalam proses produksi dan distribusi budaya populer (Lull, 1998:9). Salah satu minat utama dalam kajian televisi adalah pada tayangan drama. Drama adalah salah satu program televisi yang tak pernah habis ditayangkan. Di hampir semua stasiun televisi, tayangan drama (apapun nama atau bentuknya, mulai dari sinetron, opera sabun, telenovela, hingga melodrama) selalu mendapat tempat di jam-jam tayang utama (prime time). Tayangan ini juga menempati posisi yang tinggi dalam perhitungan rating program televisi. Selain memberi suntikan iklan yang cukup besar bagi stasiun televisi, tayangan drama juga menjadi sumber utama bagi beberapa media cetak, yang menyediakan dirinya sebagai media ‘resensi’ drama televisi.

Di Indonesia, menurut Andari dan Swastika (2008), tayangan drama awalnya dibanjiri produk impor, seperti telenovela atau serial dari mancanegara. Ketika diputuskan bahwa rasio tayangan lokal dan impor adalah 70:30 (70% produksi dalam negeri, 30% impor), maka sejak itulah sinetron dalam negeri semakin banyak diproduksi. Tayangan drama dan sinetron telah membawa dampak tersendiri bagi penontonnya, terutama remaja putri dan ibu-ibu rumah tangga. Dampak itu terutama sekali terlihat pada perubahan gaya hidup dan kriteria-kriteria yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, serial drama impor Meteor Garden telah mengubah penilaian remaja tentang bagaimana pria tampan itu. Wajah-wajah “oriental” ala Asia Timur, kini mulai mendapatkan tempat, sama posisinya dengan anggota-anggota boyband Barat. Remaja perempuan memproyeksikan impian mereka atas karakter tertentu yang seharusnya dimiliki seorang lelaki melalui tokoh-tokoh dalam drama tersebut baik secara fisik maupun perilakunya.

KM di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Melek Media. KM merupakan sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika, individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media. KM menyatakan bahwa media literacy adalah kemampuan untuk menganalisis pesan media yang menerpanya, baik yang bersifat informatif maupun yang menghibur. Allan Rubin menawarkan tiga definisi mengenai media literacy.

Allan Rubin dalam KIDIA (2006) menawarkan tiga definisi mengenai media literacy. Yang pertama dari National Leadership Conference on Media Literacy, yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan. Yang kedua dari ahli media, Paul Messaris, yaitu pengetahuan tentang bagaimana fungsi media dalam masyarakat. Yang ketiga dari peneliti komunikasi massa, Justin Lewis dan Shut Jally, yaitu pemahaman akan batasan-batasan budaya, ekonomi, politik dan teknologi terhadap kreasi, produksi dan transmisi pesan. Rubin juga menambahkan bahwa definisi-definisi tersebut menekankan pada pengetahuan spesifik, kesadaran dan rasionalitas, yaitu proses kognitif terhadap informasi. Fokus utamanya adalah evaluasi kritis terhadap pesan. Media literasi merupakan sebuah pemahaman akan sumber-sumber dan teknologi komunikasi, kode-kode yang digunakan, pesan-pesan yang dihasilkan serta seleksi, interpretasi dan dampak dari pesan-pesan tersebut.

KM penting dilakukan karena media massa, terutama televisi, merupakan sarana yang sangat efektif untuk mentransfer nilai dan pesan yang dapat memengaruhi khalayak secara luas. Bahkan, televisi dapat membuat orang kecanduan. Kini, media audio visual ini telah menjadi narkotika sosial yang paling efisien dan paling bisa diterima. Interaksi masyarakat, terutama anak-anak, terhadap televisi, sangat tinggi. Idealnya seorang anak hanya menonton tayangan televisi paling banyak dua jam sehari. Namun di Indonesia, setiap anak dapat menonton televisi selama 3,5 – 5 jam sehari. Anak-anak tidak hanya menonton tayangan yang memang ditujukan bagi mereka, tetapi juga tayangan yang belum pantas untuk mereka tonton. Kondisi ini terjadi tanpa pengawasan yang ketat dari orang tua.

Saat ini pendidikan melek media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, road show, dan kampanye-kampanye mengenai melek media. Namun, gerakan-gerakan ini baru bisa dilakukan dalam skala kecil. Pendidikan melek media tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye dan roadshow selama seminggu. Akibatnya, upaya-upaya memperjuangkan pendidikan melek media belum dapat dirasakan oleh semua pihak secara luas (Kidia, 2006).

Televisi Komunitas dan Infomobilisasi

Informasi semestinya menjadi hak dasar warga negara sebab kesenjangan informasi memiliki keterkaitan yang erat dengan keterbelakangan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan suatu masyarakat. Kesenjangan informasi menjauhkan komunitas atau masyarakat dari beragam keuntungan menggunakan informasi. Rachman (2007:6) mengatakan lemahnya akses dan pemanfaatan informasi akan menyebabkan keterpinggiran dan ketertinggalan masyarakat dari berbagai kemajuan pembangunan yang tersedia. Logikanya, kesenjangan informasi akan melahirkan kebijakan- kebijakan yang tidak aspiratif sebab masyarakat tidak cukup memiliki pemahaman untuk bisa terlibat dalam pengambilan keputusan. Bahkan, masyarakat bisa menjadi korban diskriminasi dan dominasi dari kelompok kelompok atau pihak yang menguasai informasi.

Masyarakat membutuhkan saluran akses atas informasi untuk pemaknaan atas kondisi yang ada dan pemberdayaan diri. Masyarakat akan berdaya bila memiliki kesadaran dan kebutuhan bahwa informasi bisa menjadi sumber kekuatan (power). Masyarakat menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang baik bagi dirinya sendiri, bertindak secara kritis, untuk memperbaiki keadaan dan mengatasi masalahnya, terlibat dalam proses-proses sosial dan politik termasuk dalam proses pengambilan keputusan publik yang dilakukan atas komunitasnya.

Lalu, bagaimana membangun saluran-saluran arus informasi yang tepat bagi masyarakat akar rumput? Kajian ini akan melahirkan cara pandang yang tepat dan tidak terjebak pada nalar eksploitatif yang diterapkan oleh saluran informasi sebelumnya. Dari pengalaman Combine melakukan inisasi, pendampingan, dan dukungan bagi media-media informasi komunitas, dirumuskan proses dialog menjadi pondasi saluran informasi apapun yang akan dibuat. Proses dialog mensyaratkan komunikasi yang bersifat dua arah dan meletakkan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan dan proses. Lebih jauh lagi, masyarakat bisa saling melakukan pertukaran gagasan, pengetahuan, informasi, secara aktif sehingga melahirkan satu kearifan yang bersifat lokal (local wisdom). Setiap pihak yang terlibat dalam dialog adalah subjek yang memiliki persepsi, pengetahuan, dan pengalaman. Oleh karena itu, upaya yang paling mungkin dilakukan adalah mengelola dan me-manage pengetahuan (knowledge management) secara intensif dan sistematik. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat mempercepat sistemisasi informasi dan pengetahuan yang ada di masyarakat.

Melek informasi atau literasi informasi merupakan keterampilan penting bagi komunitas. Membludaknya informasi harus menjadi tantangan untuk kehidupan yang lebih baik. Ketrampilan untuk mencari, ketrampilan untuk menemukan kembali, ketrampilan untuk menganalisis dan memanfaatkan informasi perlu ditanamkan. Di sinilah televisi komunitas menempati posisi penting. Terlalu sempit jika alasan inisiasi TV Komunitas menjadi kompetitor TV swasta karena tidak akan mengubah apapun dalam internal komunitasnya. Infomobilisasi dapat menjadi domain kerja TV Komunitas karena memberikan kontribusi bagi pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Sebaliknya, jika pendirian TV komunitas memiliki semangat yang sama dengan TV swasta, alih-alih memberikan solusi bagi masalah komunitas, tapi menjadi masalah itu sendiri.

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s