Lonceng Kematian Para Peminum Jamu


Jamu itu sehat. Minim jamu itu baik untuk kesehatan dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Saat harga obat pabrikan terus membumbung tinggi, jamu menjadi solusi pengobatan bagi warga miskin.

Selain bermanfaat bagi penggunanya, jamu juga menjadi mata pencaharian bagi para pengelola kedai dan pekerja informal  lainnya. Lihat saja para penjual jamu gerobak dan gendong kerap kita lihat di pinggir jalan atau di kawasan permukiman. Boleh dibilang dua 7 di antara 10 orang Indonesia pernah jamu. Di dunia medis, keberadaan jamu telah diterima layaknya obat etical atau obat yang diresepkan dokter. Kini, lebih dari seribu lebih perusahaan jamu besar dan kecil terus berkembang di Indonesia. Angka ini belum termasuk industri rumah tangga yang memproduksi jamu.

Di balik tumbuh suburnya industri jamu, muncul jamu berbahan kimia di pasaran. Jamu jenis ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menyatakan jamu berbahaya ini merupakan campuran berbagai obat berbahaya tanpa ukuran yang jelas. Misalnya, obat aspirin untuk sakit kepala, sibutramin untuk pelangsing, sildenafil sitrat untuk keperkasaan pria, dan steroid untuk jamu rematik.

Secara fisik, ciri-ciri jamu kimia ini susah dibedakan dibedakan dari jamu tradisional. Biasanya jamu oplosan ini sangat tokcer alias sangat terasa khasiatnya dan membuat rasa kantuk sangat hebat. Sedangkan jamu murni tak bisa sehebat itu karena sifatnya yang alami.

Proses pencampuran jamu oplosan itu cukup mudah. Obat-obatan digiling dengan sebuah mesin hingga halus. Setelah obat-obatan tersebut menjadi sebuah tepung halus, lalu dicampur dengan tepung jamu yang takarannya tidak jelas. Tak kalah dengan pabrikan jamu besar, pembuat jamu kimia itu lalu mengemas produknya dengan kemasan yang menarik sebelum dijual ke pasaran.

Kuat dugaan, pasar jamu berbahan kimia ini mengalahkan pasar jamu tradisional resmi. Soalnya, jamu oplosan ini jauh lebih cespleng ketimbang jamu tradisional. Konon, omzet bisnis jamu kimia ini mencapai Rp 4 triliun per tahun, sedangkan omzet jamu tradisional hanya Rp 3 triliun per tahunnya.

2 thoughts on “Lonceng Kematian Para Peminum Jamu

  1. wah ini berita yang menyedihkan, ada aja orang yang lebih (terlalu) memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan (ancaman thdp) orang lain. keterlaluan!!

    good new yoss, sukses selalu!

  2. Peredaran jamu yang mengandung bahan kimia berbahaya telah mencapai tahap membahayakan. Di Cilacap, sebagian besar pelakunya adalah pejabat-pejabat, wakil rakyat, aparat hukum sehingga menjadi lingkaran setan yang sulit diberantas. Perlu ada perubahan besar-besaran untuk memberantas peredaran jamu ini, terutama lembaga kepolisian yang selama ini tunduk diketiak para bos jamu karena aliran dana. Kondisi ini telah menjadi pengetahuan umum di masyarakat sehingga warga kehilangan kepercayaan pada aparat hukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s