LE Semerlang: Plasma Ekonomi di Puncak Bukit


Pada setiap zaman, sebagian besar manusia menghadapi suatu persimpangan. Satu jalan menuntun pada kekecewaan dan keputusasaan yang mendalam. Jalan lainnya menuntun manusia pada suatu kebinasaan total. Hanya mereka yang sudi menempuh jalan kebijaksanaan yang mampu memilih arah yang benar.
Woody Allen dalam How to Get Ideas

Suasana Pasar Desa
Suasana Pasar Desa

Cinangsi, desa di puncak bukit

“Selamat Datang di Desa Cinangsi” tertulis di tembok tugu berukuran 1,5 x 2 meter, di tepi jalan yang menghubungkan Kecamatan Karangpucung dengan Sidareja. Tugu itu terlihat kusam, catnya pun luntur di sana-sini. Siapapun Anda bila kebetulan melewati jalan ini, periksalah rem dan gas Anda, apakah masih berfungsi dengan baik. Anda akan melalui areal perbukitan berliku-liku, licin, dan bergelombang. Namun, Anda akan menikmati kesejukan alam desa berpagar pohon pinus dan ladang-ladang warga.

Cinangsi adalah salah satu desa di Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Dengan kontur wilayah perbukitan, sebagian besar wara bermatapencaharian petani, pengrajin gula kelapa, budidaya bunga dan  penggergajian kayu. Para petani Cinangsi menanam ketela pohon, jagung, kacang-kacangan, dan palawija lainnya di lereng-lereng bukit. Selain itu, ada warga yang menjadi pedagang yang membuka warung di sepanjang jalan raya yang membelah desa.

Desa Cinangsi termasuk daerah pinggiran. Untuk menuju kota kabupaten, warga harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam dan mengeluarkan ongkos pergi-pulang sekitar lima puluh ribu rupiah. Sebagian besar wilayah Cinangsi juga masih berupa pekarangan dan ladang-ladang yang ditumbuhi pohon berkayu, seperti jati, kelapa, mahoni, sengon, dan albasiah.

Meski fasilitas listrik telah memasuki desa ini, tapi setelah pukul 21.00 suasana sangat sepi karena banyak pemuda desa yang pergi ke luar daerah. Setamat SLTA atau ada yang hanya setingkat SLTP, pemuda desa langsung mengadu nasib di kota besar, seperti Purwokerto, Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Begitu besarnya arus urbanisasi menyebabkan desa hanya dihuni oleh anak-anak dan orang dewasa. Pemuda yang tertinggal umumnya pengangguran atau membantu usaha yang dikembangkan orang tuanya.

Menjadi buruh di kota bukan satu-satunya pilihan pemuda. Kini, bekerja di luar negeri menjadi harapan sebagian besar warga. Meski berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (house keeper), tetapi pilihan ini memberikan solusi perbaikan ekonomi warga. Rumah-rumah tembok bergaya Mediteranian menjadi simbol kisah sukses para buruh migran. Meski cerita kegagalan banyak dialami, seperti korban penipuan dan kekerasan majikan, jumlah warga yang menjadi TKI terus meningkat.

Kondisi Desa Cinangsi di atas, turut melatarbelakangi lahirnya Lembaga Ekonomi Sentra Ekonomi Masyarakat Ilalang, disingkat LE Semerlang. Lembaga ini berdiri pada 7 Maret 2007, dipelopori oleh para pemuda di Desa Cinangsi. Tujuannya untuk menumbuhkan dan memberdayakan sentra-sentra ekonomi yang berbasis sumber daya desa.

Ahmad Fadli, Direktur LE Semerlang, mengatakan angka pengangguran usia produktif di desanya terus meningkat. Sebagian besar mereka memiliki latar pendidikan yang lumayan, yaitu sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Karena itu, ia mengambil inisiatif untuk membuat lapangan kerja baru yang berfungsi ganda, menampung tenaga kerja usia produktif dan merangsang pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri.

Tumbuhkan Unit Produksi dan Kuasai Pasar Lokal

Belajar dari pengalaman lembaga lain di berbagai daerah, LE Semerlang tidak memulai dengan membuat unit produksi. Mereka mempelajari seluk-beluk pemasaran, baik pasar desa maupun kecamatan. Lalu, mereka membentuk tim kecil yang bertugas   melakukan survei pasar di Pasar Desa Cinangsi. Fadli, yang sehari-harinya bergerak di usaha ritel, menjadi ketua tim.

Ada tiga hal yang diselidiki, (1) mengetahui asal barang yang diperdagangkan di Pasar Desa Cinangsi;  (2) mendata jenis komoditas yang laku atau potensial diterima pasar; dan (3) mengkaji metode penentuan harga yang dilakukan oleh pedagang. Hasil survei tersebut digunakan sebagai landasan pembuatan program kerja dan aktivitas yang akan dilakukan. Selanjutnya LE Semerlang memfasilitasi kelompok pemuda di belakang Balai Desa Cinangsi untuk membudidayakan jamur tiram.

Sebenarnya produksi jamur tiram telah dimulai selama tiga tahunan. Tapi karena beberapa kendala, mereka berhenti produksi. Lalu, LE Semerlang menghidupkannya kembali. Pengelolaannya dilakukan oleh sebuah tim yang beranggotakan lima pemuda. Modal awal berasal dari patungan anggota, sementara itu LE Semerlang bertugas sebagai lembaga pemasaran.

Setelah satu tahun berdiri, unit produksi jamur tiram menjadi tumpuan pencaharian lima pemuda. Setiap hari mereka bisa memanen jamur 5-10 kilogram dengan harga jual Rp 10.000,- per kilogram. Pemasaran jamur relatif mudah, mereka cukup menitipkankan pada pedagang sayur di pasar desa. Apresiasi konsumen juga tinggi sehingga jamur selalu ludes terjual. Meskipun dengan modal yang sangat terbatas, unit produksi jamur bisa memperoleh pemasukan antara 2-3 juta rupiah per bulan.

Kemudahan usaha produksi jamur tiram adalah semua bahan bakunya dapat diperoleh di Desa Cinangsi. Mereka tidak terpengaruh dengan situasi perekonomian makro sebab mampu memutus ketergantungan pada bahan pabrikan. Mereka menjaga jumlah produksi agar tidak melebihi daya tampung pasar yang ada. Harga jual jamur  pun menjadi stabil.

Saat ini, LE Semerlang akan memasarkan produk-produk industri rumah tangga seperti tempe dages, kripik singkong, sale pisang, lanting, dan aneka makanan ringan lainnya. Perlahan namun pasti, Pasar Desa Cinangsi akan menjadi etalase produk lokal. Pada akhirnya, seperti kata Soekarno, prinsip berdikari akan terwujud. Warga desa mampu membangun kekuatan ekonomi secara mandiri.

Meskipun LE Semerlang baru mengelola unit usaha kecil, tetapi kegiatan mereka menginspirasi warga lainnya untuk melakukan hal serupa. LE Semerlang juga melakukan pendampingan kelompok-kelompok ekonomi mikro di delapan desa, antara lain usaha ternak kambing dan pengrajin rotan di Kecamatan Karangpucung, petani karet di Kecamatan Wanareja, peternak lele di Kecamatan Cipari, dan pendampingan pedagang kecil di Kecamatan Nusawungu dan Kesugihan.

Prestasi unit usaha jamur di Desa Cinangsi diakui secara luas. Terbukti pada akhir tahun 2007, LE Semerlang menyabet peringkat satu lomba kelompok pemuda pelopor wirausaha yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Cilacap. Mereka berhak mewakili Kabupaten Cilacap untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Semerlang dan Pengetahuan Lokal

Selain pendampingan sektor ekonomi produktif, LE Semerlang juga menggarap pemetaan ekonomi desa. Mereka menggandeng Lembaga Pemberdayaan dan Pembangunan Masyarakat Desa (LPPMD) Desa Cinangsi untuk membuat dokumentasi potensi ekonomi desa lewat program Mengenal Desa Sendiri (MDS), yang diwujudkan lewat pembuatan film berdurasi sekitar 20 menit. Sambutan meriah dari warga tampak saat pemutaran film itu di Balai Desa Cinangsi.

Pertengahan tahun 2008, LE Semerlang mengembangkan aktivitas tukar-menukar informasi melalui metode jurnalisme warga (citizen journalism). Tujuannya untuk mengeksplorasi pengetahuan dan kearifan lokal di desa. Para pemuda dilatih menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya sebagai upaya melatih kepekaan mereka pada situasi dan kondisi lokal. Lewat jurnalisme warga, warga lebih mengetahui kekuatan daerah sendiri dan memulai komunikasi yang lebih cerdas dengan warga lainnya.

Kegiatan jurnalisme warga di Desa Cinangsi dikembangkan bersama-sama Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta sebagai pengelola situs suarakomunitas.com sebagai saluran informasi akar rumput. Warga memublikasikan peristiwa di sekitar mereka menjadi berita menarik. Berita itu menjadi media pengarusutamaan gagasan dan kearifan lokal. Akhirnya, ide-ide kreatif warga pun menjadi sumber pengetahuan lokal.

Produk jurnalisme warga menjadi alternatif bacaan di tengah arus besar informasi media massa yang hanya dikuasai oleh pemodal besar. Selain mampu memberi informasi dari sudut pandang lokal, jurnalisme warga dengan media publikasinya, memberi kesempatan yang sama kepada warga untuk bisa mempromosikan jasa dan hasil produksi.

Lewati Tantangan dan Halangan

Prestasi yang diraih LE Semerlang bukan tanpa tantangan dan halangan. Tak sedikit kegagalan yang sempat mereka rasakan. Masalah berasal dari warga sendiri maupun dari pihak pemerintah. Tantangan pertama adalah pola pikir warga. Umumnya, warga enggan mengikuti perkembangan pasar. Unit produksi yang dimiliki warga biasanya turun-temurun atau meniru usaha orang lain yang sukses. Karena itu, ide membangun unit produksi yang berbasis pasar sulit diterima.

Sebagai contoh, saat LE Semerlang melakukan survei pasar sempat menjadi bahan tertawaan. Ada yang berceloteh sok terpelajar, sok intelek, dan sebagainya. Padahal survei pasar sangat diperlukan sebelum memproduksi barang dan jasa. Warga baru menerima konsep tersebut setelah LE Semerlang dapat membuktikan kesuksesannya dalam membangun unit produksi jamur tiram.

Kedua, pemerintah desa kurang mendukung akses modal bagi kegiatan ekonomi warga. Saat musyawarah pembangunan masyarakat desa (Musrenbangdes) misalnya, pemberdayaan unit usaha warga kurang mendapat tanggapan. Pemerintah desa (kepala desa dan perangkat desa) masih beranggapan pembangunan selalu berwujud fisik seperti jembatan, jalan, dan gedung. Contoh lain, hasil pemetaan ekonomi desa lewat program MDS tidak menjadi dasar pembuatan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes).

Peluang pasar bagi produk-produk warga sebenarnya sangat menjanjikan. Selama ini, pasar desa masih dikuasai oleh pemain lokal sehingga produk-produk industri rumah tangga setempat bisa dipasarkan. Sementara itu, pasar kecamatan telah dikuasai oleh pemodal besar dan jaringan waralaba yang memasarkan produk-produk pabrikan dan barang impor. Pasar kecamatan menjadi sulit diakses karena dikuasai oleh industri besar. Akhirnya, produk-produk warga menjadi terpinggirkan.

Desa sebagai pilar-pilar ekonomi

Pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang lebih memihak warga dengan membuka akses pasar bagi produk lokal.  Bila ekonomi desa kuat maka ekonomi kerakyatan akan tercipta dengan sendirinya. Tumbuhnya perekonomian kerakyatan akan mengurangi arus urbanisasi. Toh, sumber pendapatan ada di daerah mereka sendiri.

Setidaknya, LE Semerlang merupakan salah satu anak bangsa yang menjadi contoh. Masih ada kepercayaan diri dan harapan masa depan perekonomian kerakyatan ditengah krisis keuangan global sekarang ini. UU No. 32 tahun 2004 bab XI mengenai desa, mengamanatkan kerjasama antara pemerintah desa bersama masyarakatnya untuk mengelola potensi sumberdaya lokal yang dimiliki. Inisiasi warga membangun perekonomiannya, seharusnya mendapat dukungan dan penghormatan setinggi-tingginya.

Potensi ekonomi desa memberi peluang terbukanya lapangan kerja bagi warga . Revitalisasi desa harus menjadi landasan kebijakan pemerintah. Desa, jauh pada asalnya merupakan daerah otonom dan bahkan ada lebih dahulu dari negara ini. Setiap warga negara berasal dari desa. Desa tidaklah lagi pantas menjadi pinggiran, tetapi adalah pilar perekonomian negara.

Rushdiiana Sholihah, Jurnaliswarga Kecamatan Kroya

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s