Demokrasi Perlu Konstitusi dan Aktor yang Kuat


Peserta dan Fasilitator Pelatihan HAM dan Demokrasi
Peserta dan Fasilitator Pelatihan HAM dan Demokrasi

Upaya membangun demokrasi butuh institusi yang kuat. Institusi yang kuat akan menjamin proses demokrasi dari ancaman kekuatan antidemokrasi. Selain itu, aktor demokrasi juga tak cukup memiliki kebebasan dalam memilih, tapi juga ikut aktif mempromosikan demokrasi.

Demikian ringkasan penjelasan Olle Tornquist, staf pengajar Universitas Oslo, Norwegia, dalam Kursus Intensif untuk Pelatih Hak Asasi Manusia dan Demokrasi yang diselenggarakan oleh CESASS UGM di Hotel Puri Asri, Magelang. Acara ini berlangsung dari 1-11 Desember 2008 dan diikuti oleh para aktivis sosial, mahasiswa pascasarjana, dan akademisi. Menurutnya untuk mengkaji demokrasi perlu melepaskan kajian ini dari pertanyaan apakah demokrasi atau sejahtera dulu. “Untuk menerapkan demokrasi sebaiknya kita fokus pada sisi konstitusional, hukum, dan kapasitas kaum demokratnya,” ujarnya.

Poin penting yang harus ada dalam konstitusi adalah warga tidak bisa diabaikan dari proses demokrasi. Setelah poin ini ada, selanjutnya perlu dipikirkan usaha untuk meningkatkan kapasitas warga supaya bisa terlibat dalam pengambilan keputusan.

Apabila konstitusi kuat maka kelompok-kelompok yang selam ini mengandalkan kekuatan otoritas di luar konstitusi akan bisa dinetralisir. Ia mencontohkan, orang seperti tomy winata yang memiliki banyak uang mampu mempengaruhi keputusan penguasa sebab konstitusi lemah. Pengaruh seperti itu tidak bisa terjadi apabila konstitusi mengatur secara ketat sehingga ia tidak bisa membeli kekuasaan.

Olle mengingatkan pada peserta pelatihan bahwa demokrasi merupakan tindakan kolektif sehingga aktor demokrasi harus mampu mengorganisir warga untuk ikut menentukan keputusan publik. Program penganggaran partisipatif membuktikan apabila warga ikut menentukan keputusan publik, banyak kebijakan yang menguntungkan warga.

“Kemampuan warga kan berbeda-beda, ada yang bisa mengakses birokrasi, ada yang bisa mengakses kegiatan militer, namun sebagian besar mereka tidak bisa mengakses apapun. Makanya dalam studi demokrasi kita mesti memperhatikan perbedaan kelas sosial ini,” lanjutnya.

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s