Informasi itu Hak Dasar Warga


Informasi merupakan hak dasar bagi setiap warga. Masyarakat internasional menetapkan tanggal 28 September sebagai hari hak untuk tahu internasional atau international right to know day. Pengakuan informasi sebagai hak dasar menunjukkan informasi sangat penting sebagai pembuka jalan bagi terjaminnya pelaksanaan hak-hak asasi. Hak atas pendidikan, hak untuk hidup sejahtera, dan berpartisipasi dalam proses demokratisasi, misalnya. Lemahnya akses dan pemanfaatan informasi suatu komunitas menyebabkan komunitas tersebut terpinggirkan dan menjadi korban dari berbagai kemajuan.

Rachman (2007:2) mengatakan permasalahan kesenjangan informasi bukan saja menunjukkan kemiskinan ekonomi tapi juga kemiskinan sosial politik. Warga tidak dapat menyampaikan aspirasi serta tidak mengetahui adanya kebijakan yang berdampak kepada mereka. Warga juga tidak cukup paham untuk bisa terlibat dalam pengambilan keputusan sehingga muncul diskriminasi dan dominasi oleh kelompok atau pihak yang menguasai informasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Harris dan Rajora (2006) tentang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk tata pemerintahan dan pengentasan rakyat dari kemiskinan di India menunjukkan sebagian besar warga yang miskin secara ekonomi adalah mereka yang tidak memiliki akses terhadap informasi. Karena itu, keduanya berkesimpulan TIK merupakan alat yang efektif untuk memerangi kemiskinan sehingga mesti diterapkan secara masif dan meluas.

Pendapat Harris dan Rajora sesuai dengan konsep masyarakat komunikatif yang diidamkan oleh Habermas (Budiman, 1996:4). Masyarakat komunikatif dibayangkan sebagai masyarakat yang memiliki kesadaran dan kebutuhan terhadap informasi sebagai sumber kekuatan (power). Dengan informasi, masyarakat dapat mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, bertindak secara kritis dalam upaya memperbaiki keadaan dan mengatasi masalahnya sendiri, serta mampu terlibat dalam proses-proses sosial dan politik termasuk dalam mengambil keputusan publik yang dilakukan komunitasnya.

Dari penjelasan di atas, melek informasi (information literacy) merupakan prasyarat utama terciptanya masyarakat yang komunikatif. Pendit (2008: 124) mengatakan melek informasi, berarti bisa mengakses sumber-sumber informasi, bisa menyeleksi informasi sesuai kebutuhannya, bisa menganalisis informasi secara kritis, dan bisa mengelola informasi. Tanpa bekal melek informasi, publik hanya menjadi bulan-bulanan pasar dan penguasa teknologi informasi.

Lalu muncullah kegiatan infomobilisasi oleh warga. Melalui infomobilisasi warga melakukan perubahan dengan menggali permasalahan, kebutuhan, potensi, sturuktur komunikasi dan informasi yang mendorong perbaikan kehidupan mereka.

  • Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s