Lengo Klentik Versus VCO


Suatu saat saya kelepasan ngomong menyebut minyak goreng dengan istilah lengo klentik. Beberapa teman langsung menyebutku dengan kata ndeso. Lengo klentik dipandang sebagai produk inferior dan dekat kaum miskin. Lucunya, di kota-kota ada istilah Virgin Coconut Oil (VCO) yang menjadi primadona kembang agribisnis. Lengo klentik dan VCO sebenarnya sama saja, yaitu minyak yang terbuat dari kelapa. Mengapa mereka dipahami berbeda?

Menurut saya inilah paradok dunia modern. Di desa, terutama di Jawa, minyak goreng menjadi produk rumah tangga. Warga memarut daging kelapa dan santannya menjadi bahan baku lengo klentik. Proses pembuatan lengo klentik cukup sederhana. Kelapa diparut dan diambil santannya kemudian dipanaskan hingga airnya menguap dan tinggal padatan yang menggumpal. Gumpalan padatan ini disebut blendo.

Minyak dipisahkan dari blendo dengan cara penyaringan. Blendo masih banyak mengandung minyak sehingga masih bisa diambil minyaknya dengan cara diperas. Blendo sebagai residu (ampas) pembuatan lengo klentik memiliki rasa yang manis dan baunya harum. Blendo sering dibuat sambal atau teman makan getuk hangat.

Lengo klentik memiliki fungsi yang beragam. Bisa buat goreng-goreng, nyayur, bahkan bisa buat pelicin saat kerikan. Selain itu, lengo klentik banyak dijadikan minyak rambut. Supaya wangi ditambahi tambah oke ditambahi daun kaca piring dan bunga seperti kenanga dan melati, lalu namanya menjadi lengo bacem. Lengo bacem ternyata ampuh mencegah tumbuhnya uban. Tetangga saya telah berumur 50 tahun belum tumbuh uban karena rajin menggunakan minyak rambut ini.

Di era kekinian muncul istilah VCO atau minyak perawan. Setelah saya membaca buku, bagaimana membuat VCO ternyata tak beda dengan proses membuat lengo klentik yang dipraktikkan ibu-ibu di pedesaan. Santan dipanaskan dalam suhu sekitar 100-110 derajat Celcius. Pada suhu itu, protein yang berikatan dengan air pun akan pecah. Selanjutnya, protein akan mengalami denaturasi (rusak). Dengan demikian, protein yang mengikat lemak (minyak) dari santan kelapa akan rusak juga.

Minyak kelapa ini kemudian akan bebas dari ikatan-ikatan emulsi dengan protein sebagai emulgatornya. Dengan lepasnya ikatan-ikatan tersebut, minyak akan mengumpul tersendiri. Sementara protein pun akan berkumpul menjadi satu. Protein tersebut dikenal dengan nama blendo. Nah, sama kan dengan cara membuat lengo klentik, istilah dan bahasanya saja yang ilmiah.

Jika prosesnya sama mengapa lengo klentik harganya murah sementara VCO lebih mahal puluhan kali lipat. Untuk 100 ml VCO bisa mencapai harga Rp 60.000,- sementara lengo klentik hanya Rp 1.000 per 100 ml atau Rp 10.000 per kilogram. Ibaratnya, satu keturunan beda nasibnya. Mungkin orang Indonesia suka membeli barang karena namanya yang aneh, yaitu Virgin Coconut Oil. Jangan-jangan kata virgin (perawan) yang bikin mahal? Ups!

  • Tak Berkategori

2 thoughts on “Lengo Klentik Versus VCO

  1. Di daerahku ada cara membuat minyak kelapa dengan : merendam buah kelapa yang telah di cungkil selama semalam, memarut, menjemur satu/ dua hari dan memeras. Jadilah minyak kelapa. Ini masuk golongan minyak yang mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s