Wabah Hepatitis Serang Rawaapu


Saat daerah lain tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan dengan pentas seni dan lomba, Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, justru berkabung duka dengan rentetan kematian warganya. Dalam seminggu setidaknya ada tiga warga meninggal dunia dengan ciri penyakit yang sama, yaitu perut mual, pucat kuning, dan perut membengkak.

Menurut Warni (19), warga Rawaapu, warga desanya diduga terkena virus Hepatitis. Mesti telah banyak warga menjadi korban hingga kini belum ada usaha pemerintahan desa maupun dinas kesehatan untuk mengambil langkah pencegahan. Lokasi Desa Rawaapu sendiri jauh dari Puskesmas. Warga mesti menempuh jarak 15 Km ke kota kecamatan karena dua Puskesmas Pembantu yang dibangun di desa itu telah lama ditinggalkan tenaga medis.

Berapa jumlah korban yang meninggal akibat virus ini belum dapat diketahui. Tapi untuk dua rukun warga di Dusun Cikuning ada 5 orang menghembuskan nafas dalam seminggu terakhir. Letak rumah para korban berdekatan sehingga besar kemungkinan penularan penyakit akibat kontak fisik. Sampai berita diturunkan masih terdapat banyak penderita lain yang tidak mendapat penanganan semestinya.

“Kemiskinan dan jauhnya pusat layanan kesehatan membuat warga hanya pasrah. Selama ini, mereka memilih pengobatan tradisional dan apa adanya,” jelas Warni.

Sementara itu, Sugiyem (49), berpendapat penyakit itu muncul karena buruknya sanitasi keluarga dan minimnya air bersih. Menurutnya, masalah ini sebenarnya bukan hal baru, sayang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap tidak menaruh perhatian kepada desa miskin di ujung arat Cilacap yang berbatasan langsung dengan Segara Anakan dan Jawa Barat ini. Ia menilai Pemkab tidak mengambil reaksi cepat padahal virus ini dapat menular.

“Penderitaan masyarakat miskin justru ditambah dengan mahalnya biaya kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Cilacap tidak tanggap dengan kejadian ini dan banyaknya daerah yang terkena wabah serupa,” ujarnya.

Pernyataan Sugiyem ada benarnya. Selama ini Pemkab Cilacap meletakkan sektor kesehatan sebagai tulang-punggung pendapatan asli daerah (PAD), yaitu yang menyumbang 34% dari total PAD Kabupaten Cilacap.

Sungguh memilukan, hari kemerdekaan yang semestinya dirayakan dengan gembira berubah menjadi hari berkabung warga Desa Rawaapu. Ironisnya, banyak sanak saudara mereka menghembuskan nafas terakhir tanpa tersentuh tangan-tangan medis. Inikah Kemerdekaan?

9 thoughts on “Wabah Hepatitis Serang Rawaapu

  1. Trims mas,sebagai masukan jajaran kesehatan untuk perbaikan layanan dan program kesehatan.Tetapi mohon sebelum menulis,konfirmasi dulu pada pihak yang berkompeten dan terkait,benar gak.Tanya pada semua orang Rawaapu,ada nggak petugas kesehatan di Rawaapu,karena tulisan tersebut mengesankan Desa Rawaapu betul2 tidak diperhatikan Dinas Kesehatan,termasuk penempatan tenaga kesehatan. Padahal kan ada Bidan Desa yang tinggal di Rawaapu,bahkan 2 orang.Ya kan ? Trims.

  2. # Kesehatan

    Betul di Desa Rawaapu sudah berdiri Puskesmas pembantu. Bahkan di Dusun saya, Cikuning, telah didirikan pos layanan kesehatan masyarakat. Tapi permasalahan kesehatan itu kompleks. Dua lokasi di atas tidak digunakan secara maksimal, bahkan pos kesehatan dibiarkan mangkrak (proyek sia-sia). Pengetahuan masyarakat yang rendah dan akses layanan yang sangat minim maka masyarakat jelas dirugikan.

    Kesehatan sebagai hak dasar warga negara tidak sepenuhnya dapat dinikmati. Semestinya, kita patut berkaca ke Kabupaten Jembrana (http://www.jembranakab.go.id). Kebetulan saya pernah melakukan penelitian di sana. Meskipun PAD mereka jauh dibawah PAD Cilacap, warga Jembrana dibebaskan dari biaya pelayanan kesehatan dasar, seperti biaya rawat jalan dari kunjungan ke puskesmas atau rumah sakit. Biaya kesehatan baru dipungut secara normal ketika penderita harus rawat inap, namun tetap saja ada pengecualian pelayanan gratis bagi mereka yang benar-benar dari keluarga miskin.

    Bagaimana dengan Cilacap? Mari kita angka-angka yang muncul di APBD?

  3. Terima kasih mas Yossi,untuk kritik jajaran kesehatan.Saya sangat setuju dengan pendapat Mas,bahwa masalah kesehatan sangat komplek,tidak mungkin ditangani haya oleh Pemerintah saja maupun masyarakat saja,diperlukan sinergi/kerjasama saling dukung diantara keduanya,termasuk adanya kejadian sesuatu termasuk wabah,tanpa aanya laporan masyarakat,tidak mungkin jajaran kesehatan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan( termasuk wabah).Kalau mas Yosi tahu,berarti mas Yosi waktu itu tdak mau berperan membangun masyarakat Rawaapu,karena tak memberi info ke jajaran kesehatan,betuk kan ?Perlu diingat,orang kesehatan bukan malaikat !Yang saya kurang setuju,apa yang mas tulis tidak semuanya benar.Misal,fasilitas kesehatan yang ada,,dah lama ditinggalkan petugas.( bersambung )

  4. Fasilitas kesehatan yg ada si Rwp,1 bh Pustu,ditempati Bidan Desa( jadi tak pernah ditingalkan mas ),buka tiap hari,1 bh lagi Polindes,mendapat stimlan dari Pem.Provinsi,harus didukung swadaya mas,tapi ternyata susah.Sekarang diselesaikan oleh pemerintah Desa Rwp mas,baru rampung akhir 2008.Coba tengok tulisan Mas 31 Agt 2008.Itupun belum sempurna karena peralatan interiornya belum,bagaimana Mas Yosi siap membantu swadaya,sebagai wujud oeran serta masyarakat ? Jadi bukan sepenuhnya proyek pemerintah yang mangkrak mas,ini barangkali mas yang belum paham,jadi nulisnya tidak pas.Gitu kan Mas ?
    Sekali lagi trims atas masukanya,mari kita bangun desa Rawaapu bersama sama,pemerintah berperan,masyarakatpun berperan,tanpa begiti suatu hal yan mustahil mengaharap Desa Rawaapu (dan lainya ) bisa maju.Bravo kesehatan.

  5. Mas Yosi yang terhormat.Saya sangat setuju,bahwa mslh kesht.sangat komplek,hingga gkbisa ditangani hanya oleh masy.ato pemrnth.sj.Diperlukan keterpaduan kerjasama pemrth.dng masyrkt.Tanpa itu,omong kosong.Misal kasus yang anda duga wabah hepttis tsb ( layak diragukan),kenapa mas gk nyampekan ke jajaran kesehatan,apa mas gak mau berperan mengatasinya ? Mohon diingat,orang kesehatan bukan malaikat,bukan dukun,yang tahu segalanya.Tanpa peran masyrkt ,gak mungkin dong bisa tahu segalanya.Iya kan ? Dan yang gk stju,tulisan mas gak semuanya benar,misal bahwa fasilitas kesehatan sudah lama ditinggalkan.Tlng tengok lg tulisan Mas.Disitu ada Bidan Desa yang berdomisili,bahkan 2 org.
    Kenapa mas tulis petugas sdh lm meninggalkan faslts tersebut.Tanyakan lg ke orng Rwp,benar gk Mas ?Ini hanya koreksi penulisan,mbok yg benar.

  6. # Kesehatan

    Terimakasih atas koreksinya. Penjelasan dari “Kesehatan” saya anggap sebagai informasi penting yang melengkapi kekurangan data yang saya sampaikan. Saya berharap “kesehatan” menanggapi tulisan sebagai masukan, jadi tak perlu berlebihan membela diri.

    Saya menyadari bahwa saya bukan tenaga medis, sehingga data penyakit ditulis dengan kata “diduga”. Saya mohon Anda mengecek pos layanan di Dusun Cikuning apakah ada di bidan yang menempati? Tenaga Medis ada di Dusun Kalenanyar yang menjadi puskesmas pembantu.

    Dengan menulis saya telah berpartisipasi dalam memajukan pelayanan kesehatan, benar kan? Maaf, bukan untuk membela diri, sangat sedikit orang yang secara sukarela melakukan kerja pengelolaan informasi. Apa ini bukan bentuk partisipasi?

    Salut untuk “Kesehatan” yang mau lapang dada berdiskusi dalam dunia maya. Saya berharap pelayan publik lainnya mengikuti langkah yang diambil “Kesehatan”. Betul?

    Tapi, sebaiknya anggaran untuk kesehatan ditingkatkan dong…he3x

  7. Trims Mas,sejak sudah dianggab sebagai masukan dan kritik,tapi mesinya proporsional dan apa adanya.Dan bukan bela diri,tapi hanya klarfikasi,itulah yang sebenarnya, apa adanya,hingga gak ada yang (merasa)dirugikan,gitu loh.Karena sejak awal memang `Kesehatan gk meninggalkan Rawaapu`seperti yang Mas Tulis.Gitu kan Mas ? Coba tengok tulisan Mas pertama.Dan yang di Cikuning kan belom jadi 100% Mas,jadi Bidan Desa tinggal di Rumah penduduk,ngontrak,sambil nunggu PKD/Polindes jadi,untuk dimanfaatkan pelayanan kesehatan.Gitu mas,bukan bela diri berlebihan he.he..he..hee
    Rampung ya Mas,maaf dan trims.

  8. # Kesehatan

    Semua pihak mau berpikir positif terhadap informasi. Seperti kata Bill Kovac (2002), setiap saat informasi selalu dilengkapi, siapapun yang merasa tahu kondisinya bisa saling melengkapi. Objektivitas informasi ada pada wataknya yang terbuka pada masukan dan perbaikan secara terus-menerus, tidak pernah mati.

    Besok diganti dengan topik yang berbeda ya, saya mendapat kiriman laporan Dinas Kesehatan dan penelitian beberapa mitra di Cilacap. Meskipun belum selesai saya baca, dokumen itu berisi data statistik, konsep, anggaran, dan pelayanan kesehatan. Bulan ini saya belum bisa menuliskannya, tapi suatu saat saya berharap bisa kita mendiskusikannya dengan hangat? Kita bisa menganalisisnya bersama-sama.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s