Penambal Ban, Penyambung Nasib Keluarga

Namanya Jinem. Nama yang singkat dan “njawani”. Ibu tiga putra itu mengaku sejak 1972 mengadu nasib sebagai tukang tambal ban. Ban apa saja, sepeda motor, truk, bis, becak, dan lainnya.

Menurutku Jinem perempuan kuat, tak jauh beda dengan RA Kartini. Bahkan Jinem lebih kuat darinya. Dari hasil menambal ban ia menyekolahkan tiga putranya hingga bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Bahkan, lewat pekerjaannya ini di rumahnya tersedia seperangkat alat komputer untuk mendukung belajar anak-anaknya.

Kini semua putranya telah berkeluarga. Putra pertamanya memberikan cucu semata wayang. Ada yang bekerja di perusahaan Astra, kontraktor, dan akuntan. Mereka sering meminta ibunya berhenti menambal ban tapi selalu ditolaknya.

Bagi Jinem, menambal ban adalah sebuah pilihan hidup. Halal dan menolong sesama. Untuk menjadi pegawai perusahaan jelas ia tak bisa maklum dirinya hanya jebolan sekolah dasar. Akhirnya, menambal banlah penyambung hidup keluarganya.

Perempuan berumur kepala lima ini mengaku ban adalah bagian dari hidupnya. Menambal ban butuh keahlian khusus dan rasa. Semuanya saat ini ia punya sehingga pelanggannya tidak pernah sirna.

Ia mangkal di Jalan Raya Banaran Sragen, dua kilo sebelah barat tugu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur di Ngawi. Ia heran saat pelanggan bertanya, “bapak ada bu, saya mau menambal ban.” Kenapa selalu bapak yang dicari, padahal ialah masternya.

Bagaimana dengan Anda? Lebih kuat dari Jinem?

Belum ada komentar

Leave a reply