Jardiknas dan Pengajaran Open Source di Sekolah
Lewat dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memungkinkan pendistribusian ilmu pengetahuan di sekolah menggunakan konsep pengajaran elektronik (e-learning). Buku-buku pelajaran dapat diunduh secara langsung lewat secara gratisan, misalnya melalui situs bse.depdiknas.edu. Departemen Pendidikan Nasional juga telah meluncurkan Proyek Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) sehingga teknologi interkoneksi (internet) dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah.
![picture00101 Jardiknas Cilacap]](http://pelosokdesa.files.wordpress.com/2009/02/picture00101.jpg?w=300&h=225)
Suasana Laboratorium Komputer di Sekolah [Sumber: Jardiknas Cilacap
Tindakan pembajakan di lembaga pendidikan, seperti sekolah, jelas sangat ironis. Apapun alasannya, pembajakan merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran hukum. Untuk menyiasati keterbatasan dana, solusi tepatnya adalah penggunaan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (Free and Open Source Sofware), sebut saja Linux. Terlebih, salah satu distro Linux, Ubuntu, telah mengeluarkan versi khusus untuk pendidikan, yakni Edubuntu.
Keunggulan FOSS sangat banyak, antara lain FOSS merupakan sistem operasi yang bebas atau gratis (free) dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkannya (open source). FOSS juga tidak mengenal istilah virus, sebab ia sistem in dikerjakan secara bersama-sama oleh jutaan ilmuwan komputer di seluruh dunia.
Mengapa FOSS bisa didapatkan secara gratisan? Prinsipnya, FOSS itu free as in freedom, not free as beer. FOSS itu seperti ilmu logaritma, aljabar, phytagoras, dan hukum yang ada di fisika, kimia, matematika, yang tidak pernah dipatenkan oleh pembuatnya.
Mungkinkah kita menggunakan FOSS di sekolah?
Jelas mungkin. Kesalahan kegiatan belajar-mengajar selama ini adalah guru sering mengenalkan produk (merek) bukan subtansi. Guru mengenalkan Windows, bukan mengenalkan sistem operasi. Apabila guru bisa mengajarkan substansi maka dunia pendidikan akan sadar bahwa kebiasaan menggunakan perangkat lunak berpemilik (propertary) akan menciptakan ketergantungan.
Dalam platform FOSS tersedia berbagai aplikasi yang memiliki fungsi serupa dalam plafform Windows. Untuk aplikasi kantoran tersedia Open Office, untuk aplikasi grafis ada GIMP, Inkscape, Scribus, dan untuk aplikasi audio-video ada XMMS, Audacity, Audacious, Amarok, Kafeein, dan untuk animasi ada Blender. Untuk aplikasi pendidikan kita bisa menggunakan Stellarium untuk pelajaran perbintangan atau astronomi.
Semua aplikasi dapat diunduh dan digunakan secara gratisan. Dukungan FOSS pada dunia pendidikan membuat aktivitas belajar-mengajar semakin menarik. Mata pelajaran yang selama ini dipandang sulit akan terasa mudah dengan adanya fasilitas pemodelan dan gambar yang disediakan oleh perangkat lunak pendidikan di FOSS. Para siswa juga terbiasa dengan tradisi berbagi sehingga tercipta percepatan dalam pengembangan keilmuan.
saya kira sebelum berangkat ke teknologi tingkat tinggi, pendidikan kita mulai dari yang konvensional dulu. drop buku-buku sudah banyak. ada buku murah. tinggal guru dan siswa punya waktu untuk membacanya. bila ini efektif, kita sudah berangkat dari ‘generasi nol baca’–kata chairil anwar, dan ‘generasi nol buku’–ujar taufiq ismail.
# Masmpep
Saya setuju dengan pendapat Anda, intinya adalah ada semangat untuk terus memperbaiki diri. Kita meninggalkan jaman batu, bukan karena batunya habis. Kita meminimalkan kertas, bukan karena kertas kita mahal. Semangat perubahan itulah yang kita warisi sehingga kita bisa isebut sebagai MANUSIA bukan lainnya.